Takpapa mama, Dedek Tetap Sayang


Sekitar 2 tahun lalu, saya mengikuti sebuah seminar parenting, ada sebuah pertanyaan dari seorang ibu: ibu, kami meleskan anak di 7 ekskul,mulai dari berkuda, bela diri, piano, dll. Jawab ibu psikolog ini “ibu,buat apa ibu leskan anak ibu sebanyak itu? Mau menuai apa? Saya punya cerita ada seorang ibu yang memasukkan anaknya di bilingual school tapi ibunya gagap berbahasa inggris. Ketika sudah remaja maka remaja ini bisa meledek ibunya menggunakan bahasa inggris karena ibunya tidak paham”
Degg 💘 hati saya benar-benar terpukul. Mengapa anak tidak boleh pandai lebih dari orang tuanya? Bukankah kita-kita sekarang ini kemungkinan lebih pandai dari orang tua kita sebelumnya? Hanya karena alasan kita tidak bisa menang berdebat dengan orang tua, bukan karena itu alasan kita menyekolahkan anak kan? Dari segi teknologi misalnya, segi pengetahuan,semakin kesini teknologi menjadi semakin maju.
Saya pikir ada yang bisa diluruskan. Masa mau meninggalkan generasi yang lebih bodoh dari saya,sebagai orang tua. Pasti ada hal lain. Cara bagaimana anak bukan memandang pengetahuan untuk berkomunikasi dengan orang tuanya.
Saya diskusikan dengan suami dan suami menyanggah,bukan karena lebih pintar maka anak boleh tidak menghargai orang tuanya. Saya bercita-cita dapat menjadi sahabat anak, suatu hal yang tidak saya dapatkan ketika remaja dari orang tua saya. Saya kemudian berpikir yang dibutuhkan anak adalah cinta kasih orang tuanya, keterbukaan, dan rasa saling menerima apa adanya. Saya dan suami setuju bahwa inilah yang akan mengikat rasa hormat anak kepada orang tua.
Rumah pun kami warnai dengan suasana bersahabat dan rasa cinta (walau tegas tentu ada). Saya pun mengajarkan orang tua bisa salah (tidak seperti ajaran dulu bahwa orang tua selalu benar,apapun kondisinya). Kadang ketika berinteraksi dengan anak-anak saya sengaja melakukan hal yang salah dan mereka membenarkan. Salah benar biasa yang penting kita berusaha dengan baik dan berempati bagi yang tidak mengerti. Jadi walaupun anak-anak kami beri limpahan pengetahuan ada nilai-nilai kehidupan yang terus kami coba tanamkan.
Semalam saya mencoba kembali teknik tersebut ke putri bungsu kami. Terkait topik sepeda. Ya, saya ingin anak-anak saya bisa bersepeda walaupun mamanya tidak bisa hahaha 😂
Ketika melihat anak-anak tetangga bersepeda muncullah percakapan di bawah ini:
Mama: wah kakak-kakaknya asik ya bersepeda. Adek juga mau bersepeda di luar? (Sudah lama tidak bawa main sepeda di luar rumah)
Runi: iya,adek mau
Papa: iya mama,adek mau bersepeda juga ya,kan asik ya dek? Adek udah bisa mama (sepeda roda 4)
Runi: iya. Kalau mama?
Mama: iya adek hebat udah bisa sepeda,mama belum nih
Runi: tak apa-apa mama, adek tetap sayang mama kok. *menatap pengertian*
Jlebb terharu sekali 😍 sampai speechless saya. Bukan karena saya rendah diri sama anak saya tapi saya sedang menguji,bagaimana jika saya sebagai orang tuanya jauh banyak tidak bisanya dibanding anak, apakah anak akan tinggi hati lalu mengejek? Saya ingin menanamkan empati. Ketika situasi dialog seperti ini seringkali saya mengetes sampai mana ajaran kami merasuk ke anak-anak. Dan saya terharu ajaran kami sudah terpatri di putri kami yang baru saja berumur 3 tahun.
Tidak masalah siapa yang lebih pandai, ketika berinteraksi sebagai anak-orang tua hanya kasih sayang sebagai bahasa utama bukan?

-Catatan sore hari-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s