Saya dan Memasak (Everyone Can Cook)


Saya itu tidak bisa memasak titik

Kenyataannya? BISA

It’s a long story and happy ending :-)

Ceritanya dari waktu kecil dahulu saya tidak pernah dibawa ke dapur kecuali diperbolehkan untuk mengiris bawang dan memotek ujung cabai. Kelamaan,ujar ibu saya. Begitu terus sampai saya dewasa dan hampir menikah. Deg-degan mau menikah tapi sama turunan Padang yang pastinya lidahnya sudah teruji maunya yang enak-enak, gawat, pikir saya. Lalu salah satu pertanyaan yang saya ajukan ke suami ketika mau menikah adalah apakah tidak masalah saya tidak bisa memasak. Tidak masalah selama warung makan masih buka,gelaknya. Oke, saya tenang.

Setelah menikah saya baru tau kalau sejarah kesehatan suami saya ada tipes di dalamnya dan pernah kambuh 2x. Khawatir? Sangat. Pokoknya saya harus bisa masak! Tapi tidak terpikir bagaimana caranya, pikiran hanya terasa kosong. Lalu mulailah saya menonton acara memasak dengan begitu antusias tapi pas mau praktek, kok rasanya sulit.

Lahirlah anak pertama setelah setahun menikah dan betul, saya kebingungan dengan resep MPASInya. Mulailah masa-masa GTM (Gerakan Tutup Mulut) yang sangat intens, BB yang tidak naik-naik bahkan menurun ketika sakit, membuat saya ingin menangis tapi tidak tahu harus berbuat apa. Muncullah keinginan harus bisa memasak dan saya hamil anak kedua, yang pada akhirnya menjauhi dapur karena morning sickness. Gagal lagi pikir saya.

Setelah itu saya menonton film berjudul Taratouille, ada yang pernah tahu? Yup, everyone can cook. Simpel dan mengena. Tentang kisah bagaimana pada akhirnya primadona masakan sebuah restoran terkenal berakhir pada masakan sederhana yang mengingatkan tentang kenangan masa kecil. Saya tersentak, sepertinya ada yang salah dengan cara saya. Metode pun dibalik, bukan saya yang harus menyiapkan makanan ENAK untuk keluarga (seenak masterchef atau koki di restauran), karena ternyata ENAK itu subjektif. Saya cari tahu kesukaan si sulung apa, masih gagal tentu saja. Belum lagi Sulung saya sudah bisa berkata enak dan tidak enak, bahkan “hmm.. sedaap” bagaikan upin ipin ataupun iklan penyedap masakan berMSG. Dan masakan saya berujung di “gak enak,mama”. Pahit rasanya T_T

Selang beberapa waktu, ada topik tentang makanan selama menyusui dan seorang dokter anak favorit saya di twitter (dr.oei) mengatakan makanan ketika menyusui sangat mempengaruhi kesukaan anak. DEG! Saya konfirmasi ke beliau apakah pada masa kehamilan juga mempengaruhi? Iya,ujarnya. PANTAS anak sulung saya tidak suka masakan yang saya buat, karena selama ini saya berkiblat ke kesukaan papanya, ayam dan daging padahal selama saya hamil dan menyusui dominan lauk yang saya makan adalah IKAN. Baiklah, mulai saya bereksperimen dengan ikan. Padahal ikan itu paling susah dibersihkan dan diolah untuk menghilangkan bau amis.

Saat yang bersamaan saya bereksperimen dengan variasi makanan di kehamilan kedua. Anak saya harus bisa makan segalanya, ambisius sekali ya,hahaha. Betul, memutus rantai SULIT MAKAN itu jadi target utama saya. Alasannya karena semasa kecil saya sulit makan dan suami juga orang yang pilih-pilih makanan. Saya bekerja dan tidak bisa memasak (enak), klop sudah penderitaan karena saya yakin kesehatan bermula dari makanan. Jika saya tidak bisa menyediakan masakan enak dan sehat, kesehatan keluarga dapat terancam.

Berdasarkan ambisi saya tadi, acara Masterchef (bukan versi Indonesia tentunya karena MSG dimana-mana) menjadi favorit saya, saya mengikuti grup memasak di Facebook, blog walking ke food blogger. Dan karena ketidakpercayaan diri saya bahwa masakan saya bisa enak, saya mulai dari hal kecil, MPASI anak kedua. Saya memiliki kendala, saya adalah apoteker dan bekerja di laboratorium, jadi saya terbiasa bekerja dengan SOP (Standard Operating Procedure) dan takaran yang jelas (karena analitik). Padahal memasak itu insting. Maka, langkah pertama yang harus saya coba adalah semua masakan harus berdasarkan resep,hehehe, bahkan hanya untuk sekadar membuat bubur bayi. Tetapi ternyata langkah-langkah ini berguna untuk saya karena mulai dari hal-hal yang menjadi patokan lalu bisa dimodifikasi.

Selain itu mengumpulkan resep sana sini bahkan belajar dari ibu-ibu jago masak lalu pada saat proses penelitian di kantor, saya harus membersihkan sekian puluh ribu data tentang bumbu masakan. Ternyata lelah itu terbayar ketika anak-anak berkata “Mama masaknya pinter deh” dan bukti makanan yang habis tanpa sisa ataupun minta tambah. Sungguh itu semua sangat berharga, proses yang sulit terbayarkan sudah🙂

Dan tentu saja, tidak berhenti sampai disitu, pada waktu itu saya  masih punya PR supaya anak-anak mau dan habis jika memakan ayam, daging, dan telur. Dan perjuangan untuk membuat makanan-makanan tersebut disukai anak-anak masih dalam proses.

Intinya saya mau bilang, saya setuju sekali dengan Taratouille daaan setiap keluarga punya menu masing-masing, tidak dapat disamakan. Misalkan satu keluarga mengatakan kalau mereka suka sekali dengan makanan manis, itu tidak berlaku di keluarga saya. Akan sangat membantu jika kita bisa mengidentifikasi kesukaan anggota keluarga sedini mungkin sehingga masakan rumah yang lezat versi kita dan citarasa khas keluarga, bisa lebih mudah dilakukan. Happy cooking!🙂

Image result for muslimah memasak

(gambar diambil dari sini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s