Hari Akhir


2 malam yang lalu saya diajak suami menonton serial X-Men terbaru keluar (lupa judulnya karena saya tidak terlalu ngeh dengan judul film) di komputer. Maklum saja soalnya jarang nonton di bioskop demi quality time bersama bocil-bocil. Filmnya keren sekali bagi saya, baik dari sisi science fictionnya atau dari dramanya dan membuat saya merenung (apa sih yang gak dipikirin). Si Wolverine yang kembali ke masa lalu demi mengubah path hidup di masa depan para mutan dan manusia demi tidak terciptanya Sentinel. Betapa hal yang dianggap simpel untuk menyudahi pertarungan pemusnahan mutan oleh si Mystique dengan membunuh pencipta Sentinel, Dr.Trask, ternyata membawa dampak yang lebih buruk dengan pengambilan DNA Mystique yang pada akhirnya untuk memodifikasi bahkan menyempurnakan “sistem” Sentinel untuk dapat mengenali seluruh mutan dan jenis mutasinya sehingga dapat ‘dimusnahkan’. Betapa di akhir kisah, segala penderitaan yang Wolverine rasakan hanya ‘úntuk’ keadaan yang baik-baik saja (aman) dan dia cuma berkata “Ï’m glad to see everyone”. Betapa para X-Men rela mengorbankan dirinya untuk tujuan yang sangat risky bisa didapatkan dan berusaha sekuat tenaga.

Di satu sisi….

Beberapa masa belakangan ini, ya mungkin saja dua bulan belakangan begitu banyak berita duka, tentang kehilangan anggota keluarga baik dari keluarga saya, keluarga suami ataupun keluarga kolega dan teman yang saya kenal dengan baik. Sudah seberapa siap saya menghadapi kematian? Sedih sudah tentu, bertanya tentang sebab musabab berpulang para almarhum, dari yang mendadak ataupun sakit yang berkepanjangan. Melihat keluarga yang ditinggalkan bahkan ada yang memiliki anak di usia Sekolah Dasar, siapa yang tak sedih jika tulang punggung keluarga pergi meninggalkan kita. Bagaimana jika….

Semuanya ini memberikan banyak sekali pelajaran, menjadi reminder untuk diri saya pribadi, diantaranya:

  1. Jika ternyata saya belum tuntas membesarkan anak-anak, maka bekal apa saja yang sudah saya berikan sehingga mereka bisa menjalani hidup tanpa tergoyahkan iman Islamnya dan mampu berjuang mendapatkan rizki yang dijanjikanNya tanpa harus meminta-minta atau menindas orang lain.
  2. Harta tidaklah menjadi penting jika peruntukannya tidak untuk jalan yang diridhai. Betapa banyak contoh kisah (kasus Angeline misalnya) harta justru menggelapkan mata, baik terhadap ahli waris ataupun yang merasa harus memiliki harta waris.
  3. Apa tujuan akhir hidup saya? bersenang-senang? Menempuh karir setinggi-tingginya? Membesarkan anak-anak yang menjadi penyejuk mata?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s