Temper Tantrum (Kulwap IIP Bekasi)


Assalamu’alaikum.

Siapa yang anaknya sedang masa-masanya temper tantrum? *ngacung* Hari ini saya mau share artikel yang lagi pas banget sama kondisi di rumah yaitu tentang Temper Tantrum. Semoga bermanfaat ya🙂 (Note: kalau mau share boleh tapi mengikuti format di bawah ya😉 )

Disclaimer : 1. Artikel berikut bisa di temukan di bentuk forum parenting lainnya. Artikel ini disebarkan dengan sumber yang disebutkan dengan tujuan berbagi informasi berharga. 2. Artikel berikut bisa jadi belum cocok untuk kondisi masing-masing keluarga namun memahami isi materi dengan baik bisa jadi sangat berguna di kemudian hari. 3. Dipersilahkan menyebarkan artikel dengan menyebutkan sumbernya. 4. Silahkan menyimpan artikel atau bisa mengunjungi blog Kijar 5. Di persilahkan untuk berkomentar dan bertanya atas isi materi untuk di diskusikan bersama-sama dengan bahasa yang hangat dan santun.

SOURCE : IIP Bekasi Resume kulwap IIP Bekasi

Hari/tgl : Sabtu, 25 April 2015

Host : Ressy, Co-Host : Rifa, Admin : Milfa,

Tema: TEMPER TANTRUM (Nara sumber: Ratih Zulhaqqi, M.Psi)

Edifikasi nara sumber : • Ratih Zulhaqqi, M.Psi • Tanjung Karang, 11 Juni 1983 • Lulusan: Magister Profesi Psikologi, 2007-2009 • Pekerjaan: – Dosen luar biasa Universitas Paramadina – Kontributor Detik Health – Psikolog Klinis – Konsultan Sekolah Tempat Praktek: RaQQi – Human Development & Learning Centre Jl. Tebet Barat IX No 11 Jakarta Selatan 021-85585261 / 087877928230 admin@raqqiconsulting.comwww.raqqiconsulting.com ; RS Mitra Keluarga Depok ; Klinik Terpadu Universitas Indonesia Fakultas Psikologi UI, Kampus Depok

DEFINISI

Temper tantrum merupakan bentuk luapan amukan marah yang paling umum terjadi ketika masa perkembangan anak. Temper tantrum dapat terjadi dalam waktu 20 detik hingga selama berjam-jam. Bentuk temper tantrum seperti berteriak sambil berguling-guling di lantai, membenturkan kepala ke dinding, menendang dan menggigit, menangis histeris, berguling di sekitar pintu, atau menahan napas (jangan khawatir jika hal ini terjadi, anak-anak secara alami akan bernapas ketika mereka perlu).

SIAPA YANG MENGALAMI?

Terjadi biasanya pada anak usia 2-4 tahun. Diperkirakan bahwa 50- 80% dari balita (2-3 tahun) mengalami tantrum sebanyak seminggu sekali dan 20% dari mereka mengalami tantrum setiap hari.

MENGAPA TERJADI?

Anak mengalami temper tantrum karena berusaha mendapatkan kebebasan dari pengasuh. Misalnya mereka ingin bisa memutuskan apa yang harus makan, apa yang ingin dimainkan, dan sebagainya. Pada anak yang gagal menguasai tugas-tugas yang lebih kompleks, ia akan menjadi lebih frustrasi. Namun karena kemampuan verbal terbatas mereka tidak dapat secara efektif berkomunikasi frustrasi mereka, yang mengarah ke akting dari perilaku yang tidak diinginkan.

METODE MENGATASI

1. Consistency

Balita mengalami kesulitan beradaptasi dengan lingkungan yang berbeda yang membutuhkan berbagai perilaku. Balita cenderung untuk mengadopsi lebih baik ketika mereka memiliki pola rutinitas atau terjadwal. Semua pengambil perawatan yang terlibat dengan anak harus memiliki konsekuensi dalam suatu hal yang dapat diterima dan konsekuensi untuk perilaku yang tidak dapat diterima. Inkonsistensi dalam penguatan sering dapat menyebabkan anak menjadi bingung untuk apa yang benar dan salah. Orangtua/pengasuh dapat mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sama setiap kali anak berperilaku buruk.

2. Positive reinforcement

Orangtua/pengasuh harus ingat untuk memberikan penguatan positif (positive reinforcement) untuk perilaku yang diinginkan. Imbalan harus sesuai dengan tahapan perkembangan anak dan berkisar pada kata-kata positif, pelukan, senyuman, dan stiker. Tujuannya adalah untuk membuat anak merasa puas bagi anak yang dapat berperilaku dengan cara yang sangat disukai atau diterima.

3. Avoid knows problem.

Hal-hal sederhana seperti tidak mengambil anak dari tempat mereka berada ketika sedang merasa lapar atau mengantuk. Jika orangtua/pengasuh berencana untuk membawa anak untuk durasi yang panjang, disarankan untuk membawa cemilan, mainan, dan sebagainya

4. Warnings.

Tujuannya adalah untuk membiasakan anak dengan aturan.

5. Expectations.

Orang tua harus memastikan bahwa mereka menetapkan hal yang wajar atau sesuai dengan kondisi anak mereka. Seringkali anak-anak tidak mengerti apa yang diperlukan atau diminta dari mereka. Hal ini terutama berlaku untuk anak-anak yang mengalami hambatan perkembangan.

CARA MENGATASI

Bagaimana cara mengatasi anak yang temper tantrum?

1. Stay cool.

Sangat penting untuk diingat bahwa orangtua merupakan role model untuk anak. Jika anak mengalami tantrum, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mengambil napas dalam-dalam dan kembali ke situasi. Semakin banyak perhatian yang diberikan orangtua/pengasuh, semakin besar kemungkinan bahwa anak akan mengulanginya.

2. Time Outs

Time out merupakan metode yang biasa dipakai jika metode lain gagal dilakukan. Time out telah terbukti lebih efektif ketika anak diminta untuk tetap berada di kursi tertentu, ruang, dan tentu saja ketika obyek yang menjadi permasalahan dihilangkan. Disarankan bahwa seorang anak menerima 1 menit dari waktu untuk setiap tahun usia anak.

3. Ignoring is another effective strategy for dealing with minor discipline/temper tantrums.

Ketika tantrum terjadi di lingkungan yang aman, dapat diterima untuk menarik perhatian baik fisik dan verbal (reinforcement positive) dari anak. Hal ini penting untuk mempertimbangkan bahwa mengabaikan tidak akan menghapus perilaku tantrum tersebut, dan sangat penting bahwa strategi ini dipraktekkan oleh semua orang di rumah. Cara mengabaikan anak menjadi lebih efektif jika diberikan untuk masalah disiplin lebih yang kecil, misalnya jika perilaku tantrum seperti menggigit, melempar barang-barang. Salah satu orangtua harus menjelaskan secara singkat kepada anak mengapa mereka mengabaikan dan mencontohkan cara yang tepat untuk meluapkan amarah.

4. Distraction

Seringkali orangtua mengetahui faktor-faktor pencetus atau kejadian yang dapat menyebabkan anak mereka untuk menjadi tantrum. Jika hal ini terjadi, orangtua dapat mencegahnya dengan memfokuskan perhatian mereka ke beberapa objek atau kegiatan lainnya.

5. Verbal reprimand

Jika anak sudah cukup besar maka ide yang baik adalah mendiskusikan apa yang terjadi dan cara yang lebih baik untuk menangani situasi yang tidak menyenangkan pada waktu berikutnya. 6. Punishment. Penggunaan hukuman tidak dianjurkan bagi orangtua (misalnya memukul anak) sebagai metode untuk mengendalikan tantrum. Telah terbukti bahwa hukuman dapat menncetuskan kemarahan, dan frustasi pada anak-anak dan dapat meningkatkan frekuensi tantrum. Kebanyakan ahli perkembangan merekomendasikan penggunaan penguatan positif (reinforcement positive) sebagai metode ketika anak berperilaku baik atau metode mengabaikan ketika anak tantrum di dalam lingkungan yang aman.

CARA MENCEGAH

Bagaimana cara mencegah terjadinya tantrum pada anak?

1. Bantu anak untuk mengenali emosinya dan memahami bagaimana ia merasakan emosinya tersebut.

2. Pelajari pola perilaku anak dan cari tahu situasi apa yang memungkinkan anak dapat memulai tantrum.

3. Jadilah pihak yang terlibat dan memperhatikan kebutuhan anak.

4. Memberikan kesempatan bagi anak untuk bermain dengan mainan “yang tepat untuk usianya.”

5. Singkirkan hal-hal yang tidak ingin anak dapat menyentuhnya.

6. Berikan jadwal rutinitas pada anak agar menjaga anak dari situasi aman, karena anak-anak dapat mengetahui aturan hari ini, tapi mungkin lupa mereka besok.

7. Biarkan anak mengetahui apa yang diharapkan sepanjang hari.

8. Ajarkan anak bagaimana cara melepaskan perasaannya dengan menggunakan kata-kata dan cara memberitahu orangtua/orang lain bagaimana perasaannya, atau dengan menggunakan energi dalam cara yang produktif.

9. Jangan memberikan anak pilihan ketika tidak ada pilihan. Misalnya, katakan, “Ini waktu tidur” bukan “Apakah kamu ingin pergi ke tempat tidur sekarang?”

10. Berikan penghargaan atau pujian pada anak ketika ia berperilaku dengan cara yang diharapkan, dan orangtua/pengasuh ingin agar dia melanjutkan cara tersebut.

Sesi Tanya – Jawab

  1. Tantrum itu sebenarnya normal atau tidak? Yg normal seperti apa dan yg tidak normal seperti apa? Trims -Tika- >> Bunda Tika, Tantrum itu sebenarnya memang akan terjadi pada fase usia tertentu dan normal adanya. Menjadi tidak normal ketika tantrum berkepanjangan dan menjadi permasalahn rumit sehari-hari. Usia normal tantrum adalah hingga 3 tahun, karena anak belum bisa mengekspresikan secara verbal apa yang ia pikirkan.
  2. Assw. Saya Ari, mau nanya anak sy yg ke 2 sdh 12 thn tp kl marah apa ngambek suka buang2 brg yg ada didekatnya atau suka nangis merengek gitu bgmn ya mengatasinya bs dihilngkan gak ya kebiasanan itu .terimakasih mba >> walaikumsalam Bunda Ari. Jika usia ananda sudah 12 tahun maka itu bukan termasuk tantrum yang normal. Kemungkinan sudah cenderung ke arah masalah perilaku dan emosi. Langkah praktis yang dapat dilakukan adalah membuat regulasi yg konsisten ttg aturan sehari2 dan orangtua musti kompak serta sama aturan sehingga anak belajar untuk memahami apa yang bisa dan tidak bisa. Mungkin akan sedikit sulit merubahnya karena ananda sudah masuk ke usia remaja. Jika dalam 2 bulan tidak ada perubahan, saya sarankan untuk berkonsultasi ke psikolog. Trims
  3. Nieke: Saya sering membantu di kegiatan posyandu.. nah stiap kali selalu saja ada bbrp anak yg stiap mau ditimbang selalu ngamuk.. berontak nangis dsb pdhl swaktu datang hepi2 aja.. seingat sy sih blm prnh ada yg bs ngatasi baik dr ibu/sp aja yg bw anak itu, kader posyandu atau mlh bidan/petugas kshstan yg ada.. sll gagal ditimbang atau kl dpaksakan yaaa gitu deh.. Si anak ditimbang sambil ngamuk.. Mgk ini tidak termasuk tantrum ya? Solusinya bagaimana supaya anaknya mau ttp dtimbang?>> Halo Bunda Nieke, Beberapa anak memang akan merasa tidak nyaman ketika hal tersebut berkaitan dengan pengalaman yang kurang menyenangkan seperti misalnya pernah disuntik. Sehingga anak mengasosiasi bahwa ketika hendak ditimbang itu adalah pengalaman tidak menyenangkan. Hal yg mungkin dilakukan adalah misalnya di posyandu dibuat pojok bermain sehingga anak tidak terlalu fokus dengan kegiatan posyandu, atau jika pada saat menangis, tidak dipaksa untuk ditimbang.
  4. syania: jika anak keras kepala itu terjadi krn memang sdh lahiriah atau terjadi krn bentukkan lingkungan sekitar? cara menghadapi anak yg keras kepala? Apa bs dirubah? >> Bunda Syania, ada 3 temperamen anak, easy-slow to warm up – Difficult. Biasanya anak yang keras kepala memiliki temperamen yang difficult dan diperkuat oleh pembentukan lingkungan. Cara menghadapi anak yang keras kepala adalah dengan membuat waktu diskusi dan mengajak anak untuk menciptakan alternatif solusi lebih banyak sehingga ia dapat melihat sesuatu dari sudut pandang lebih dari satu. Apakah bisa berubah? Tentu saja selama stimulasi dan penanganannya tepat.
  5. jika anak tantrum, memukul, teriak, reaksi awal yg tepat spt apa? -linda- >> Bunda Linda, jika anak sedang tantrum hingga memukul maka Bunda bisa memindahkan anak ke tempat yang lebih aman,misalnya ke atas kasur (ditemani) atau dipeluk beruang(semua anggota badan masuk kedalam pelukan) sehingga anak tidak bisa memukul. Tapi tidak usah terlalu banyak instruksi verbal. Menenangkan anak dengan sentuhan..
  6. Ressy : bu Ratih…apa yg bisa kita lakukan jika melihat ibu2 lain yg sedang kesulitan mengatasi anaknya yg tantrum? >> Bunda Ressy, selama ibu tersebut tidak meminta bantuan maka sebaiknya kita tidak memberikan insight apapun apalagi itu didepan umum, krn orangtua juga perlu belajar disetiap life event sehingga semakin terampil. Namun jika sudah turut membahayakan keselamatan anak, kita dapat menolongnya dalam batasan hubungan sesama manusia
  7. Kalau pada saat anak tantrum biasanya kan agak sulit mengetahui apa mau si anak nah klo misalnya pada saat anak tantru,si ibu atau pengasuh mengalihkan si anak ke hal2 yg lain bagaimana apa tidak masalah?misal si anak tiba-tiba marah lalu kita bujuk dengan coklat akhirnya si anak anteng lagi,  Afni >> Bunda Afni, pengalihan pada anak tantrum sejauh ini masih efektif. Namun, pengalihan dianjurkan tidak dalam bentuk pemberian makanan, karena makan adalah termasuk daily activity dan dikhawatirkan anak jadi memiliki mindset bahwa makan itu adalah setelah tantrum terjadi. Lebih baik pengalihan dilakukan dalam bentuk kegiatan misalnya melihat bunga, atau menunjuk benda hingga bermain sesuatu.
  8.  Asw. Anak sy 6 th, suatu malam dia bangun tidur sndri utk pipis ke toilet. Dia minta tlg ayahnya utk menyalakan lampu. Sy ga tau bgmn respon ayahnya saat itu. Yg jelas sy terbangun krn dia nangis & kesal ga jelas (menggoyang2 jemuran handuk). Ketika sy tanyakan knp, nangis & kesalnya bertambah. Akhirnya sy biarkan smpai dia berhenti sndri.. Apakah perilaku ini msh normal utk usianya yg sdh 6 thn? Apakah tindakan sy membiarkan dia menangis sdh tepat? Trmksh -fera  >> Bunda Fera, Ada beberapa anak yang ketika bangun tidur tidak langsung stabil secara emosi sehingga jika respon lingkungan tidak sesuai maka ia akan merasa tidak nyaman. Lebih baik memang ketika ia menangis tidak ditanya kenapa, tapi cukup ditenangkan terlebih dahulu yaitu dengan cara memeluk atau mengusap punggungnya. Jika ia tetap menangis maka pindahkan ke tempat yang aman dan berikan kesempatan ia menangis.
  9. Pertanyaan kulwap.Selamat siang ibu ratih. Apakah tantrum akan hilang seiring dgn bertambahnya usia? Kalau diatas 5 thn msh tantrum apakah normal? Terima kasih. Hapsia >> Bunda Hapsia, Tantrum akan hilang secara alami ketika anak sudah dapat mengekspresikan secara verbal apa yang ia rasakan dan pikirkan, dan kemampuan menyelesaikan masalahnya meningkat. Jika di atas 5 tahun masih muncul tantrum, maka kemungkinan besar ada penerapan pengasuhan dan aturan yang belum tepat sehingga menjadi masalah perilaku.
  10.  Novi: terkait dg pertanyaan mbak syania di nomor 4. Bagaimana cara mengenali tipe temperamen anak? Bagaimana contoh konkrit dr stimulasi & penanganan yg tepat untuk anak yg keras kepala? Thanks Bunda Novi,>> Temperamen anak biasanya bisa dilihat dari cara mereka beradaptasi dengan lingkungan dan perubahan. Kalau anak easy akan lebih mudah menghadapinya dan tetap ceria, anak slow to warm up akan membutuhkan waktu dulu untuk lebih nyaman dengan situasi atau perubahan sehingga ia dapat menjalani situasi tersebut. Jika anak difficult akan mudah marah atau malah takut berlebihan ketika menghadapi sesuatu/perubahan. Langkah konkrit untuk menghadapi anak yang keras kepala adalah memberikan kesempatan ia untuk diskusi dan menjelaskan apa yang membuat ia bertahan dengan pendapat/pikirannya. Lalu dapat memberikan fakta yang sebenarnya. Misalnya anak tidak mau makan sayur dan kekeuh meskipun sudah dibuat variasi, maka orangtua dapat memberikan apa informasi ttg manfaat sayur menggunakan gambar2 dan apa akibatnya jika tubuh kekurangan sayur.
  11. Ida : Anak sy no 2 perempuan dr kecil smp umur 7th klu lg tantrum smp spt belut gk bs di antengin sblm nangis caoek berjam2 apapun carany Skrg pindah ke adiknya  laki2 kls 2sd klu minta sesuatu hra segera dan langsung ada klu nggk semua di berantakin/lempar2 barang gmn cara kasih pengertian dan melatihnya agar bs memahami keadaan Kadang auka dii jerwm dikamar mandi sama abinya soalnya membahayakan dg gitu dia jd nurut >> Bunda Ida, sepertinya sistem pengasuhan dan aturan yang ada dirumah kurang memberikan stimulasi dalam pembentukN regulasi diri anak. Anak yang selalu memaksakan kehendaknya biasanya terkait dengan kurangnya latihan dalam menahan pemenuhan apa yang diinginkan/dibutuhkan Sayang sekali Bunda tidak memberikan informasi bagaimana pola pengasuhan yang dijalankan, jika memang pengasuhan selalu memenuhi apa yang diinginkan anak maka perlu diubah dan anak diajarkan membuat prioritas dari yang sangat penting, penting, kurang penting dan tidak penting. Hukuman yang dijalankan sebaiknya tidak berupa kegiatan yang menimbulkan ketakutan dan pengalaman tidak menyenangkan pada anak. Sebaiknya hukuman/konsekuensi bersifat mendidik dan sesuai dengan perilaku yang dilakukan.
  12.  Laila : Selamat siang bu Ratih…bu, bagaimana kita menjelaskan yg tepat pada anak2 kita jika mereka melihat temannya yg tantrum?>> Bunda Laila, Ketika anak kita melihat anak lain tantrum hal yang bisa kita lakukan adalah mengembangkan kemampuan anak untuk memikirkan cara lain selain tantrum, misalnya dengan menyampaikan secara verbal apa yang ada dalam pikiran dibandingkan nangis hingg memukul atau berguling di lantai. Dan dapat juga dilakukan penilaian misalnya perilaku tersebut ada banyak kerugiannya, capek menangis, dan badan jadi sakit ketika berguling dll (penjelasan untuk anak) ✅

Untuk beberapa cara yang dishare di atas sudah ada beberapa yang diterapkan tapi untuk teknik time out saya masih belum berhasil. Semoga bisa berusaha yang terbaik untuk anak-anak,aamiin.

Terus belajar menjadi orang tua terbaik bagi Fatih dan Runi

Rosa Adelina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s