Life Balance


Yang menjadi isu para ibu belakangan ini adalah WM (working mom) vs IRT (Ibu Rumah Tangga) dimana yang menjadi poin inti adalah WM itu tidak selalu bersama anak, memikirkan karir, bla bla bla etc etc. IRT itu bisa mengurus anak full, karir sangat tidak penting dibandingkan anak,bla bla bla etc etc. Tapiiiii saya menemukan fenomena laiiiinn! WM tapi pikirannya ke rumah terus bahkan kerjaan jadi terbengkalai dan menyusahkan orang lain.

Serius, saya tidak pernah mempermasalahkan seorang ibu mau bekerja di kantor, di rumah, mau jadi ibu rumah tangga saja, it’s fine. Jalani peran itu dengan sebaik-baik kemampuan kita. Toh tiap pilihan memiliki konsekuensi masing-masing, dan pilihan itu kita pilih berdasarkan situasi dan kondisi kita masing-masing kan. Yang menjadi masalah buat saya sekarang adalah ibu yang memutuskan untuk bekerja lalu sering sekali mengambil alasan “anak” untuk tidak mengerjakan pekerjaan kantornya. Heyy, kita sama-sama punya anak kawan. Kalau situ memakai alasan itu terus, apa anak saya tidak lebih penting dari anak anda? Kan gak gitu juga.

Contoh kasus nyatanya adalah seminggu lalu trial penelitian nasional yang diampu oleh instansi sedang dimulai lalu kami dibagi menjadi beberapa tim dan harus datang pagi, yak jam 07.30 di Bogor sedangkan saya menolak menggunakan fasilitas hotel dan memilih PP (pulang pergi) Ciputat-Bogor dengan alasan anak-anak sedang sakit,yang ngerti obat-obatan mereka adalah saya. Saya sendiri sedang tidak enak badan juga (radang,flu). Sedangkan yang menjadi ujung tombak keluarga, si suami, juga hampir kecapean menghandle anak-anak ketika saya tidak fit seperti biasanya. Ditambah harus memasak makanan untuk mereka dulu di pagi hari. Apa kemudian saya menggunakan alasan-alasan di atas ke atasan saya untuk mendapat kompensasi ini itu? Tidak. Terdengar kejam ke anak sendiri? Mungkin. Tapi kalau saya izin dan meminta kompensasi, saya yakin atasan sayapun belum tentu memberikan kompensasi dan trialnya mungkin tidak berjalan lancar jadinya.

Kemudian pada saat trial, yang membuat saya gemas adalah ketika saya berusaha sebaik mungkin melancarkan pekerjaan dengan datang pagi, membantu pekerjaan tim lain biar target selesai dalam sahari itu eh malah ada temen saya dengan alasan anak,ulang ya, dengan alasan anak, melambatkan pekerjaan tim. Kalau ditanya anaknya sedang sakit, tidak, tapi ngurus anak dulu pagi-pagi. Etis ga sih? Bijak ga sih? Bukaaan,bukan masalah tentang prioritas anak atau kerjaan tapi ketika kita bekerja,sebisa mungkin jangan sampai kita menghambat orang lain, gak ngerasa kita menzholimi sesama ibu lainnya?

Antara pengen nangis,tumbang karena sakit dan harus PP sedangkan target menanti diselesaikan, saya hanya mampu berdoa semoga Allah menjaga anak-anak dan suami saya ketika saya tidak ada. Semoga sakit yang mereka rasakan tidak menjadi parah ketika saya sedang bekerja. Alhamdulillah satu persatu mulai sembuh, dari Fatih kemudian saya. Sedangkan suami dan Runi masih recovery sampai trial penelitian usai dan saya kembali ke kantor.

Ada cerita lain lagi, temen saya seorang HRD manager lalu anaknya sedang demam mendadak dan naik turun panasnya. Hati Ibu siapa yang tidak ketar ketir memikirkan keadaan anaknya seharian. Lalu di saat yang bersamaan anak-anak buahnya juga sedang izin sehingga ia tidak diizinkan pulang cepat oleh atasannya. Jika ada satu saja anak buahnya yang ternyata izinnya tidak seurgent yang dia butuhkan betapa mirisnya😦

Kemudian saya jadi teringat ketika pada saat awal-awal kelahiran Fatih,remunerasi belum ada (tidak ada sanksi ketika telat jam kantor), saya menginginkan untuk menghandle anak saya dulu sebelum saya pergi ke kantor dengan konsekuensi saya sampai kantor agak siang (ketika tidak ada deadline pekerjaan). Pilihan untuk mengurus anak dan bekerja memang berat, konsekuensinya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Saya pun tidak mau anak saya tumbuh tanpa merasakan kehadiran Ibunya. Namun di tengah kegalauan saya,mama saya memberi nasihat “Bekerjalah dengan sebaik-baiknya di kantor sehingga ketika suatu saat anak sangat membutuhkan kehadiran kita (pada saat sakit misalnya), maka kantor akan maklum. Jika kita selalu menjadikan anak sebagai alasan, belum tentu keduanya (kerjaan di kantor selesai, anak terurus dengan baik) kita dapatkan”. Dan kenyataannya memang benar, ditambah kita bekerja dengan niat beribadah, insya Allah anak kita yang di rumah juga dalam lindungan Allah. Jadi, mari perbaiki niat kita bekerja!🙂

#catatan hati
#reminder

4 thoughts on “Life Balance

  1. isssh iya bener cha gemeeesss.
    Btw gw suka mengorbankan dipotong tunjangan biar bisa main sama anak dulu sih. huahahah. Tapi toh lagi gak ada yang urgent😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s