MERDEKA ITU BUKAN MENGGULUNG KOLONIAL!


Selamat hari Pahlawan! (telat sehari :D) Saya ingin berbagi sebuah wawancara terhadap seorang sosok yang saya kagumi tentang prakarsa dan kegiatannya, yaitu pak Anies Baswedan. Terlepas beliau sebagai bakal calon presiden, saya melihat beliau merupakan sebuah sosok yang santun, visioner, inisiator, dan mampu menggerakkan orang. Berikut petikan wawancara yang menurut saya menggugah semangat, yuk disimakūüôā

MERDEKA ITU BUKAN MENGGULUNG KOLONIAL..

Tanya (T): Sekarang banyak orang bilang, Anda adalah seorang akademisi. Namun, beberapa juga bilang Anda adalah praktisi pendidikan. Bahkan, ada yang menyebut Anda politisi…

Anies Baswedan (AB): Kita ini punya multiple role di badan kita. Saya adalah ayah, saya adalah suami, saya adalah anak, saya adalah rektir, saya adalah ketua Indonesia Mengajar. Oleh karena itu, saya merasa hal tersebut adalah sisi-sisi yang menempel, yang tidak bisa dihilangkan dari kita. Saya adalah politikus, intelektual, pendidik, semuanya termasuk sisi yang tidak bisa dihilangkan. 

Kita sekarang ini lebih suka untuk melihat 1 atau 2 sisi saja dari seseorang. Sebagai contoh, di era pergerakan, insya Allah apa yang kita kerjakan dulu diterima luas di kalangan kampus UGM dan di kalangan pergerakan jalanan. Sebelum itu, biasanya terpisah, gerakan jalanan sendiri dan kampus sendiri. Kenapa bisa diterima luas? Karena spirit pergerakan disampaikan dengan bahasa intelektual. Dan itu tidak bisa ditolak oleh kanan-kiri.

Biasanya, perlawanan disampaikan dengan bahasa-bahasa yang tidak bisa diterima secara akademik. Di sisi lain, apa yang dipikirkan oleh komunitas akademik itu tidak bisa diterima oleh komunitas jalanan karena tidak ada unsur perlawanannya, Kita mencoba untuk melakukan perlawanan dengan menggarisbawahi 3 hal, yang saya rumuskan sejak jaman kuliah dulu, yaitu: punya dasar intelektual, punya dasar moral, dan ada ciri keoposisian. Nah, seringkali hanya ciri keoposisiannya saja yang muncul, mengesampingkan yang lain.

T: Lalu, apa yang membuat Anda terinspirasi dalam mendirikan Indonesia Mengajar?

AB: Awalnya dari mengobrol saja. Persoalan awal pendidikan di Indonesia. Persoalan utama adalah guru. Kualitasnya rendah, distribusi tidak merata. Maka, kalau begitu solusinya simple saja, undang orang-orang terbaik, kirim ke tempat yang kurang guru. Kendalanya? Mereka pasti tidak mau. Mengapa tidak mau? Asumsinya adalah mereka akan bekerja mengajar di sana seumur hidup. Nah, asumsi inilah yang harus kita ubah. Satu atau dua tahun saja. Lalu ide itu mulai dibicarakan dengan donor, para pengusaha muda. Mereka tertarik untuk membantu merealisasikan. Lalu membentuk tim dan mulai bekerja.

Sekolah yang menjadi tujuan Indonesia Mengajar adalah, penyebaran barat-tengah-timur dan ke daerah yang kepala dinas dan bupatinya percaya pada ide ini.

Kami belum ada rencana untuk berhenti. Indonesia Mengajar itu gerakan, bukan program. Jadi kami tidak pernah bilang kami berencana menyelesaikan persoalan pendidikan di Indonesia. Tapi kami hendak mengajak semua pihak turun tangan menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia.

Saya percaya, yang dibutuhkan republik ini adalah ide yang membuat orang mau bergerak.

T: Di Indonesia ini banyak kampus, tapi mengapa masih belum bisa menyelesaikan persoalan?

AB: Karena kita ini cenderung untuk berpikir apa dan siapa yang salah. Saya tidak terlalu berminat untuk mencari apa dan siapa yang salah. Saya lebih berminat untuk mencari inisiatif apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah keadaan, karena ini mengarahkan kita pada solusi.

Untuk merubah keadaan sosial, saya lebih percaya pada pendekatan social acupuncture. Akupuntur itu dengan jarum, mengobati dengan menusuk di titik-titik. Tapi, jarum yang ditusukkan ini tidak sakit, kan? Perilaku ini bisa diubah dengan cara diberikan contoh, diberikan terobosan, lalu bergerak. Membenahi tanpa membuat sakit, yaitu dengan langsung membuat dan beraksi. Kreativitas kita dalam dunia pendidikan ini merupakan suatu hal yang fundamental sekali, tapi hal ini belum muncul. Ini yang harus kita dorong.

T: Bicara soal keinginan, sudah banyak pencapaian yang Anda peroleh sampai sekarang. Tapi, sampai sekarang, apa gagasan atau keinginan yang Anda rasa masih Anda kejar?

AB: Di tahun 2045, saya ingin kita tidak perlu minta maaf lagi kepada sebagian rakyat Indonesia dengan mengatakan ,”Maaf, Anda masih miskin, anda masih terbelakang, anda tidak terlindungi”

T: Kalau boleh tau, ke depannya apakah Anda akan masuk partai?

AB: Untuk berpartai, saya belum berminat. Tapi saya selalu siap untuk menjalankan amanat apapun untuk republik ini.

T: Apa arti merdeka buat Anda?

AB: Merdeka itu buka menggulung kolonialisme, namun kemerdekaan adalah tonggak untuk menggelar kesejahteraan dan keadilan bagi masyarakat. Dan itu spirit kita.

Saya tidak menitikberatkan siapa yang berbicara tapi membaca tulisan ini, saya kembali tercerahkan untuk berbuat lebih banyak lagi dan semoga semangat kepahlawanan ini tidak hanya berhenti pada sekedar upacara bendera dan mengheningkan cipta. Mari berbuat!ūüôā

sumber:KABARE KAGAMA (Majalah Keluarga Alumni UGM) edisi Agustus 2013

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s