Imunisasi dan Harga


Saya termasuk salah satu orang tua yang pro imunisasi atau pro vaksinasi. Sebagai apoteker yang pernah belajar imunologi yah walaupun cuma 2 sks tapi berdasarkan pengalaman saya, saya yakin imunisasi dapat melindungi buah hati saya dan saya tentunya. Ada beberapa cerita menarik dan pertimbangan membuat saya menjadi semakin mantap untuk pro imunisasi.

Baru saja 2 minggu lalu saya mengantarkan Fatih untuk imunisasi DPT ke dsa di RS terdekat. Kenapa juga saya memilih RS dibandingkan puskesmas yang bakalan ngasih imunisasi gratis? Bukan karena saya tidak percaya dengan vaksin yang ada di puskesmas tapi puskesmas buat saya bagaikan reservoir penyakit infeksi. Puskesmas itu suka penuh dengan orang-orang sakit menumpuk bejubel, makanya lebih baik saya memilih opsi untuk mengeluarkan uang lebih besar dibandingkan dapat imunisasi gratis tapi anak saya tertular penyakit ini-itu. Puskesmas di dekat tempat saya itu kadang gak manusiawi loh, ruang tunggu dokternya tidak nyaman, jadi harus dempet-dempet kayak ngantri sembako padahal kebayang gak sih itu kuman-kuman bertebaran di ruang tunggu? Ok, back to the topic. Jadilah saya memilih dsa di RS yang menyediakan ASKES (kan lumayan mengurangi biaya dokter spesialis) eh tetapi ternyata ASKES tidak mengcover imunisasi dan dokternya kalo di RS yang saya pilih itu, yah, keluar duit lagi deh. Oke, tak apa, sehat memang mahal. Sehari sebelumnya saya sudah mengecek harga vaksin DPT baik yang DPT maupun yang DPaT, well beda sampai 10 kali lipatnya loh. Yang satu 35.000, yang satu 310.000. Saya cuma berharap dsanya menawarkan ke saya yang DPT itu. Ternyata gak, yang ditawarkan tetap DPaT, hehehe, pada akhirnya tetep ngambil untung kan? Padahal dsa-nya sendiri yang bilang kalo seharusnya pemerintah yang memberikan imunisasi secara cuma-cuma. Kontras sekali. Tanpa menanyakan pertimbangan keuangan saya dsa yang ini juga menuliskan jadwal imunisasi untuk HiB pada bulan depan. Well, sir, u know the price kan? Dsa Fatih sebelumnya aja bilang sama saya kalo tidak ada budget tidak usah dipaksakan. See? Beda kan sudut pandangnya?

Ada cerita lain, di kantor saya semua yang berhubungan dengan laboratorium harus diimunisasi Hepatitis B. Jadi semua pegawai diskrining dan diimunisasi jika booster belum mencukupi. Beruntunglah saya tidak perlu disuntik karena booster saya sudah cukup padahal saya belum pernah divaksinasi maupun mengidap Hepatitis B. Alasan saya senang karena saya lagi dalam keadaan hamil jadi boleh atau tidak divaksinasi rasanya harus nunggu saya melahirkan dulu kali ya. Nah, ada salah seorang teman saya yang antiimunisasi. Buat saya pendirian tiap orang ya terserah aja tapi kalo misalnya ada wabah berarti orang ini ikut andil loh. Karena perlindungan komunal dari imunisasi hanya 7:10. Okeh, intinya saya berpikir ketika temen saya ini antiimunisasi berarti dia tidak akan mau divaksin kan? Eh, ternyata dia mau loh. Berarti alasan antiimunisasinya apa dong? Apa menurut dia imunisasi anak-anak dan orang dewasa berbeda ya? hehehe.

Salah satu cerita lain lagi. Saya punya teman yang berkecimpung di dunia virologi yang memang kerjaannya adalah menemukan vaksin jenis baru untuk penyakit tertentu. Tapi, dia memutuskan tidak memvaksinasi anaknya, alasannya vaksin di Indonesia gak aman. Loh, kalau tau gak aman kenapa dia tidak mencari cara supaya bisa aman? kan dia yang bergerak di penelitian itu kan? such a funny thing menurut saya. Tapi sekali lagi, ya itu pilihan orang kan?  :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s