untitled in my heart


Tidak saya sangka ternyata apa yang saya prasangkakan benar adanya. Sudah saya prediksi jauh-jauh hari tapi saya pikir saya yang mikirnya terlalu jauh atau mungkin penuh prasangka buruk tapi ternyata benar adanya. Dan entah kenapa ketika memang begitu kenyataannya, saya masih saja shocked. Benar-benar terkejut. Rasanya ingin marah, merasa dibohongi (lagi) dan mempertanyakan kepada Tuhan kapan saya bisa merasakan hal-hal yang saya perjuangkan. Katanya orang yang berusaha dengan baik dan setulus hati akan merasakan hasil yang manis. Kenapa saya malah mendapatkan hasil yang seperti ini? Dan kenapa harus saya yang merasakannya? Apa maksud Tuhan di balik ini? Apakah saya tidak boleh mencecap manisnya apa yang sudah saya perjuangkan jauh-jauh hari dulu? Masih panjangkah jalan saya mencapai itu? Apakah semuanya harus saya perjuangkan lagi sendiri seperti dulu? Dengan beban hidup yang semakin lama terasa semakin berat saja dan saya tau kesalahan itu tidak terletak di pundak saya.  Sedih, kecewa, dan ingin menangis rasanya. Apakah bisa saya berlari dari ini? Tapi  seraut wajah mungil itu seakan berkata bahwa saya harus ada di sampingnya. Saya ingin menyerah saja karena saya tau mimpi-mimpi yang sudah saya bangun bisa terserak bagai puing kalau saya ingin memanggul beban yang besar ini sendirian tapi saya tidak sanggup untuk memohon kerja sama lagi. Seharusnya dia sudah mengerti konsekuensi ini kan? Seharusnya dia sudah tau blueprint perjalanan yang akan ditempuh kan? Seharusnya dia juga sudah tau amunisi apa yang harus dibawa sebagai bekal bukan? Atau paling tidak dia sudah tau strategi apa yang diambil untuk menghadapi tantangan yang akan dihadapi bukan? Atau…. sebenarnya saya terpatok kata ‘seharusnya’ tapi ternyata dia hanya punya kekosongan.

Ternyata masa lalu yang katanya gemilang itu hanya masa lalu. Atau dia terlalu terbuai zaman keemasan dahulu kala itu? Hidup dari waktu ke waktu hanya untuk mengenang itu saja. Saya muak! Saya bukan selevel rakyat yang bisa terbuai kata-kata manis tidak jelas itu. Pun bukan seseorang yang akan berbinar-binar mendengarkan sejarah kejayaan itu. Saya butuh orang yang mau hidup di saat ini untuk menyongsong yang akan datang. Ah, sudahlah absurd sekali malam ini. Yang terpenting saya menjalankan peran saya sebisa saya dan Tuhan melihat itu. Titik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s