Mr.Right, is it you?


H-5 malah bikin saya tergelitik untuk menuliskan sebuah curahan hati saya. Haha, sama sekali bukan karena saya meragukan calon pendamping saya nanti, tapi lebih ke arah saya ingin mengaca dan belajar juga dari pengalaman kisah kasih orang-orang terdekat saya. Beberapa hari belakangan ketika saya mulai mengundang karib kerabat dan teman-teman saya, orang-orang yang sangat jarang berkomunikasi intens beberapa tahun belakangan akan nampak terkejut (yah, walaupun teman saya yang selalu bareng saya juga terkejut :p), senang, dan pada akhirnya bertanya kisah bertemunya seperti apa, kok yakin dengan yang ini, kok bisa memutuskan menikah dalam waktu secepat ini (padahal teman saya juga ada kok yang nikah umur 19 tahun). Saya jadi berfikir, apa karena ini saya yang menjalani, kok bisa ya terbersit pertanyaan seperti itu? Apa saya diragukan nih ceritanya?haha.. Tapi memang tak sedikit juga yang berkata “I’m lucky” mm.. mm.. saya pikir gak gitu, saya dan pasangan saya setuju dengan pernyataan “we’re blessed”. Kenapa saya pede banget ya? Kayaknya cinta banget gitu sama pasangan saya.. Justru saya merasa, ikut andil kami dalam hubungan ini jauh lebih sedikit dari keberkahan yang Allah berikan kepada kami. Rencana-rencana Allah yang membuat saya khususnya, selalu terpana, selalu merasa “Subhanallah, apakah saya yang memang pantas mendapatkan ini semua?” Tapi ternyata semua terjadi begitu cepat, di sela-sela kesibukan yang juga padat. Dan pada akhirnya sikap yang saya ambil selalu hanya bisa terjatuh pada satu pilihan, bersyukur dan menjalani sebaik mungkin apa yang saya dapati sekarang. Bagaimana tidak? Semua yang saya targetkan Alhamdulillah tercapai dan mengapa urusan yang satu ini pun juga sebentar lagi tertunaikan,insya Allah dengan izinNya. Alhamdulillah, Subhanallah dan Maha Suci Allah yang selalu mendengar setiap hambaNya yang meminta.

Bagi teman-teman saya yang pernah bilang “pengen nikah juga sih cha, tapi kok ya belum ketemu”, ini tulisan buat kamu-kamu ^.^

Mm.. sebenarnya saya tergelitik berkisah tapi ya takutnya dikira menggurui padahal saya hanya ingin menceritakan hikmah yang juga saya ambil dari kisah orang lain. Duluu banget pas saya Tsanawiyah (SMP,red), salah satu sahabat saya yang kini jauh banget kuliah di pulau Dewata pernah bercerita kalo ibunya berdoa untuk mendapatkan calon suami itu mulai dari remaja. Wah, saya terus terang takjub, Subhanallah, apalagi ternyata papanya teman saya itu benar-benar seperti apa yang diinginkan ibunya (dalam arti cocok kali ya?). Pernyataan temen saya itu mengusik hati saya “hmm.. kenapa gak dicoba?”. Dan saya pun berdoa untuk calon suami saya (doanya rahasia :p ) dan keinginan diri saya jika saya bersuami, dimulai sejak saat itu. Kemudaan banget ya? Kecil-kecil kok mikir nikah? Hehe, ya ya ya, saya bisa memahami pertanyaan itu. Tapi saya pikir, apa yang bisa saya usahakan adalah ikatan yang pada akhirnya abadi (menurut saya). Lagian saya juga gak mau rugi, jadi saya menginginkan doa saya itu sampai pada orang yang tepat. Daripada nyebut nama ternyata saya nantinya gak sama dia, lebih baik Allah memberikan doa saya itu pada orang yang tepat. Pada akhirnya, saat ini, saya tetap saja terpana dengan kemurahan Ilahi, mengapa bisa ya? Doa yang terlantun sejak dahulu kala telah menampakkan wujudnya satu persatu. Dan disinilah, saya mengambil kesimpulan, “Jangan pernah takut berdoa untuk meraih pasangan hidup (apalagi kehidupan itu sendiri), suatu keinginan juga akan menjadi kekuatan. Ketika diri kita berusaha meraih apa yang didoakan dengan usaha, Allah pun tak akan tinggal diam. Dan tentu saja, semakin kita percaya janji Allah itu nyata (ud’uunii fastajib lakum), semakin besar kekuatan doa itu menembus langit”. Percaya atau tidak, saya pernah berdoa ingin menikah sebelum usia 23 tahun. Dengan siapa? Tak tahu awalnya. Jalani hidup saya seperti biasa sembari terus berdoa. Dan voilaa! Kun fayakuun Allah berkata, keinginan saya terwujud. Jadi, berhati-hatilah dan bersungguh-sungguhlah dalam berdoa. Kita tak akan tau seberapa manjur doa tersebut diijabah olehNya.

Pernah membaca the Secret? Nah, saya percaya tulisan yang termuat di dalamnya sebenarnya mengandung ajaran Islam yang kental, baik tentang hidup maupun mimpi. Begitupun dengan pasangan tetapi Islam menamakan hal ini dengan ‘sekufu’. Misalnya, ketika kita menginginkan seseorang dengan kriteria “soleh”, magnet semesta (takdir Allah) akan mempertemukan kita dengan seseorang yang menginginkan kriteria yang sama “solehah”. Nah, permasalahannya.. ketika kita menginginkan cowo soleh tapi ternyata kita gak berusaha menjadi solehah gimana? Ya gak ketemu-ketemu deh. Saya pernah mendiskusikan hal ini dengan teman lama, ya mendiskusikan tentang arti sekufu. Agama menganjurkan menikahlah dengan orang yang sekufu (setara,red). Sekufu yang seperti apa? Apakah kekayaan? Kepintaran? Keluarga? Agama? Apakah sekufu adalah takdir Allah atau dapat diupayakan dalam diri manusia? Saya sendiri secara pribadi berpendapat bahwa sekufu itu dapat diupayakan. Misalkan ketika kita menginginkan seseorang yang berkepribadian baik, maka kita harus berusaha bagaimana untuk memiliki kepribadian yang baik pula. Semakin kita berusaha maksimal maka saya percaya pasangan kita di seberang sana juga sedang berusaha maksimal. Semakin kita memperbaiki diri, pasangan kita yang entah siapa juga sedang memperbaiki diri. Semakin kita tidak mau memikirkan pernikahan, maka jodoh kita yang entah siapa juga tidak akan mendekat, karena magnet antara kita dan pasangan akan melemah. Percaya atau tidak, saya menemukan kebetulan ini dalam kasus saya (apa ini bukan kebetulan? Tapi ayat yang tersirat?). Dan lagi lagi saya terpana, Subhanallah. Ketika saya berupaya bertahun-tahun membentuk cara berfikir saya, cara bersikap saya, mempersiapkan diri saya untuk hal yang satu ini (dengan cara saya tentunya) ternyata saya dipertemukan Allah dengan orang yang ‘klik’ dengan saya. Bukan berarti selalu sama cara berpikirnya tetapi justru mirip kayak kinerja enzim. Yup, lock & key. Bahasa psikologinya mungkin “saling mengisi”, kalo bahasa farmasinya “memiliki afinitas ikatan yang kuat”. Apa yang saya bisa, si dia gak bisa. Apa yang dia jago, saya malah lemah banget. Tapi itulah, ada suatu kecenderungan (perasaan butuh) yang pada akhirnya menandakan lemah atau kuatnya afinitas yang terbentuk. Semakin tidak merasa butuh, maka afinitas itu semakin lemah. Afinitas ini juga bisa ditingkatkan dengan persamaan pandangan hidup dan persamaan keinginan. Semakin banyak persamaan ini, semakin kuat afinitas yang akan terbentuk.

Ada satu hal lagi yang saya percaya, takdir. Saya pasti langsung tergagap atau mikir dulu kalo ada yang nanya “ketemu dimana cha?”. Hee? Ketemu dimana? Wong pertama kali ketemu pas minta izin ke papa saya kok *gubrak*. Yah, siapa yang tau jodoh kita kan? Saya dan si dia terpaut 7 tahun. Memang sih kami tu senior-junior di satu paguyuban Minang di Jogjakarta (FORKOMMI). Tapi karena beda generasi, kami tak pernah kenal satu sama lain. Di pihak saya, saya cuma tau nama si dia doank yang pernah terucap ketika ngobrol-ngobrol dengan senior lainnya. Di pihak dia, dia cuma pernah tau saya adek temennya. Sebenarnya benang merahnya sih kakak saya dan paguyuban Minang Tapi pada intinya, saya dan dia hanya pernah mendengar kabar-kabar angin saja tanpa bertemu langsung. Siapa yang tau setaun lalu kami berkenalan eh malah sekarang akan menikah? (Suka ketawa deh kalo inget ini XD). Dan pepatah yang bilang “kalo dah jodoh gak akan kemana” bener juga =)

Kesimpulannya, kita sebagai manusia ada 2, berdoa dan berusaha maksimal memperbaiki diri sesuai dengan apa yang kita harapkan. Pada akhirnya takdir juga yang akan menentukan siapa jodoh yang ada di hadapan kita ^.^

Postingan ini saya tulis berdasarkan keinginan saya pribadi untuk memberikan motivasi kepada temen-temen saya biar mantap melangkah (hahay), rasa bahagia saya terhadap orang-orang terdekat yang telah menikah dan akhirnya saya akan mengikuti jejaknya serta keinginan untuk mengaca diri, semoga hal-hal yang baik dapat saya sebarkan hikmahnya dan yang belum baik masih dapat saya perbaiki,amin. Semoga bermanfaat😉

6 thoughts on “Mr.Right, is it you?

  1. Subhanallah, bgs bgt artikelnya cha, inspiratif, selamat ya, smg pernikahannya barakah, br tau ocha dr minang, kirain org jgja,..🙂

  2. #radif: ^-^ semuanya insya Allah berlaku sama kok.. semoga menginspirasi =)
    #asti: makasi ya asti, amiin, makasi doanya =)
    it’s just an example.. bingung cari perumpamaan ya yang paling bisa diusahakan itu.. setuju, ketika kita berusaha yang terbaik, Allah pasti memberikan yang terbaik juga ^-^

  3. ka ochaa. selamat yaa. smoga jadi keluarga sakinah mawaddah.
    tulisannya bagus banget. menginspirasi. hehe..

    “ketika kita menginginkan cowo soleh tapi ternyata kita gak berusaha menjadi solehah gimana? Ya gak ketemu-ketemu deh.”

    Iyaa. Allah pasti ngasih yang terbaik buat kita selama kita berusaha untuk jadi yang terbaik juga di mata Allah..

  4. Wow, keren cha!

    Emang bener sih, jika kita menginginkan sesuatu sebaiknya berdoa sejak dini dan terus menerus. Aku sendiri juga dah terbukti hal yang sama. Cuman kalo untuk jodoh aku belum nyoba :p

    Soal jodoh yang sekufu itu bener juga sih, kita emang musti mengubah kepribadian kita sesuai dengan jodoh yang kita inginkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s