farmakopsikologi,we need it!


Sejak dahulu saya berpikir dan merasakan bahwa farmasi adalah kumpulan dari berbagai ilmu yang menjadi satu. Menjadi apoteker yang hebat tidak hanya harus mengerti tentang masalah obat, tetapi juga mengenai ilmu manajemen, ilmu berbisnis, dan tentu saja farmakopsikologi *istilah saya nih,haha* Jadi postingan kali ini saya membahas kenapa kita perlu banget ilmu ini😉

Topik ini menjadi muncul kembali setelah beberapa hari yang lalu saya berkomunikasi dengan temen kos saya yang cukup kritis. Dia datang ke dokter dan menerima resep lalu meminta saya untuk mengajarkannya membaca resep. Saya bilang aja “aku aja mesti sekolah 5 tahun loh” Berhubung saya menganggap dia adalah pasien, maka saya menganggap dia juga perlu tau.. Eitz, tapi gak semuanya, itu kan ilmunya para farmasis, jadi saya memberi tau beberapa hal yang memang sewajarnya pasien harus tau biar ngeh dia sakit apa dan kenapa dikasi obat tersebut. Saya cuma bilang kalo nama obat yang tercantum di resep tersebut adalah obat XXXX dan fungsinya YYY.. Kalo obatnya kemahalan bisa diganti dengan obat lain seperti obat AAA or BBB.. Pertama saya pikir, wah, jangan dikasi tau semuanya ke orang ini, kalo dia bisa baca resep, apa gunanya para apoteker kalo gitu? Tapi kemudian saya menyadari bahwa apoteker bukan hanya sebagai “pembaca resep” tapi juga seorang yang bisa memutuskan pelayanan kefarmasian apa yang terbaik untuk pasien, misalnya perubahan lifestyle or penggantian dengan obat lain. Pas saya nanya ke temen kos saya “kok kamu pengen tau, kenapa sih?” dia menjawab “abisan, kalo beli obat mahal terus sih, apotekernya ngasi obat yang mahal-mahal terus sih”. *DWOENGG-DWOEENGGG* JLEB! Iiihhh, saya jadi tertohok T_T Saya lantas berpikir,  jangan-jangan orang lain juga berpikir kayak gini? Heuu..

Okeh, saya gak akan membahas ini. Back to the topic. Kenapa saya menggunakan istilah psikofarmasi? farmako= segala sesuatu yang berhubungan dengan obat-obatan, psikologi= ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang kejiwaan. Dengan demikian, saya menganggap farmakopsikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kejiwaan berkenaan dengan ilmu farmasi. Melenceng gak sih artinya?haha. Saya gak mo ngurusin tentang tata katanya tapi penyebab kenapanya, yuk mari dibahas.

Memang sih, di perkuliahan kita akan mendapatkan mata kuliah konseling. Tapi saya berpikir, mata kuliah ini hanya mengajarkan bagaimana caranya memberikan konseling secara teoritis sedangkan kepekaan akan farmakopsikologi ini didapat tidak hanya dari teori tetapi dari interaksi dan hati. Oleh karenanya, prakteknya harus terus-menerus. Saya pernah PKPA di sebuah apotek C sedangkan teman saya yang lain PKPA di apotek F, nah, pas lagi berbagi cerita, dia bilang ke saya kalo di apoteknya gak ada tuh tentang tata konseling (nanya kondisi pasien, obat sebelumnya apa, interaksi or kontraindikasi,dll). Tapi omzetnya terus mengalir aja dan cukup besar. Belum lagi apotek ZZZ yang selalu buka 24 jam tapi tidak ada apotekernya. Masalah omzet? bisa berkali lipat lebih besar dari apotek tempat saya PKPA bahkan saya terkaget dengan kenyataan dalam beberapa waktu lagi, sebuah industri akan bekerja sama dengan apotek ini untuk melayani masyarakat yang kurang mampu. Tak ada apotekernya loh!! T_T See?? Gak peka bukan berarti gak dapet omzet tapi gak peka akan berurusan dengan kepuasan hati.

Emang sih saya orang yang agak idealis, dalam arti kalo seharusnya A ya kita lakukan A, tapi saya harus melihat kenyataan. Realita yang terjadi tidak seperti bayangan saya yang selalu ada kata “seharusnya”. Ini bukan masalah orang per orangan, bukan masalah ekonomi yang memang menuntut untuk diperjuangkan, tapi masalah kepercayaan masyarakat. Kita tidak dapat berteriak No Pharmacist No Service tapi pelayanan yang kita lakukan hanya setengah-setengah. Mungkin pada awalnya kita berpikir, ah paling pasien gak tau tapi saya yakin “sesuatu yang berasal dari hati akan sampai ke hati” (kutipan papa saya yang selalu saya ingat) dan saya juga sudah membuktikannya dalam beberapa hal. Saya selalu berfikir ada kewajiban yang harus ditunaikan atas sebuah pengetahuan. Kalo kita punya ilmu, gak boleh disembunyiin, agama juga ngajarin kayak gitu deh perasaan. Tapi tentu saja, selain ilmu kita juga harus punya kepekaan. Kita harus melihat tu orang gi ngerasain apa biar apa yang kita sampaikan tu bener-bener nyampe dan didengarkan. Dan ini gak cuma dalam teori tapi harus dipraktekkan. Dan karena farmasi itu sering banget ketemu dan interaksi ma orang lain, berarti sikap untuk selalu peka harus hadir di setiap saat dalam kegiatan sehari-hari. kenapa? karena kepekaan itu bukan acara TV yang bisa semerta-merta diganti kalo lagi kepengen. Tapi kepekaan itu mesti diasah terus-menerus dan setiap hari biar lebih tajam. Selain itu, tidak akan mungkin pekerjaan yang membutuhkan kepekaan dapat dilakukan dengan baik oleh orang yang gak peka. Hmm… mulai sekarang, yuk, buka mata, buka hati, buka telinga kita🙂

3 thoughts on “farmakopsikologi,we need it!

  1. Yah, tapi aku rasa mata kuliah farmakopsikologi emang dibutuhkan koq, biar para calon praktisi bisa aware akan kepedulian terhadap pasien dan aware terhadap pentingnya kepercayaan dari pasien.

    Soal real-world itu aku cuman ngingetin para praktisi dan pembaca budiman lainnya, nggak menyinggung soal artikel ini🙂

  2. hehehe, maaf ya dif, belum ada yang ngomongin ini sih soalnya :p

    menurutku hal-hal kayak gini gak harus belajar secara akademis tapi mesti learn by interaction with others,dif.. banyak-banyak interaksi dengan orang lain tanpa mengharapkan sesuatu apapun, mengorek apapun, hanya tunjukkan kepedulian.. Perlahan-lahan akan ada suatu kenyamanan dan akhirnya kita bisa menggali informasi lebih lanjut.. Intinya sih kepercayaan.. Gak harus dengan orang yang sudah kenal lama tapi bisa dengan orang baru yang gak tau apa-apa.. Kepercayaan ini juga harus didukung dengan pengetahuan dan skill yang mencukupi supaya kepercayaan berlanjut..

    Aku berbicara tentang real world kok😉 pengalaman ^^

  3. -_-… aku pikir mau ngomongin psychopharmacology… *I was excited for nothing…*

    Anyway, emang kebanyakan orang orientasinya duit sih Cha. Dan merubah mindset orang emang gak mudah. Jikalau kita emang berorientasi pada slogan “Patient Oriented” mustinya kita juga selalu berusaha untuk berinteraksi dengan pasien, memberikan kenyamanan, kepuasan, pemahaman yang dibutuhkan oleh pasien. Selain itu, adalah penting untuk memberikan kesan (yang baik nan tak terlupakan) kepada pasien, why? Karena ntar imbasnya adalah pada image dari farmasis itu sendiri. Selama ini orang menganggap bahwa posisi Ap itu berada dibawah Doc, padahal semestinya khan Ap dan Doc itu setara dan saling bahu membahu dalam memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat,

    Emang, psikologi adalah cabang ilmu yang penting, terutama saat berkaitan dengan service. Makanya aku setuju kalau sebaiknya guru-guru di Indonesia dikuliahkan di jurusan psikologi. Same apply to Pharmacy.

    Dan yang harus selalu diingat, real-world sittuation selalu berbeda dengan dunia akademisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s