~Pesimisme Sistem Medis~


Membaca artikel islam di sini bolehlah saya urun pendapat dari sudut pandang calon tenaga kefarmasian a.k.a apoteker. Bukan kehendak hati ingin menyangkal atau menyanggah tapi mungkin bisa menjadi sebuah masukan atau gambaran keadaan riil yang saya tau. Dalam artikel tersebut dipaparkan bahwa sistem medis yang sekarang ini termasuk ke dalam sistem dajjal karena dalam sistem rumah sakit (RS) seperti berlomba-lomba untuk mengumpulkan orang-orang sakit untuk mendapatkan uang, perusahaan-perusahaan farmasi berlomba-lomba memproduksi obat-obat sintetik padahal yang diproduksi adalah racun/toksik sehingga pada intinya, keseluruhan sistem medis modern adalah fitnah/ sesuatu hal yang patut dihindari.

Jika boleh saya berpendapat, marilah kita buka wawasan kesehatan kita mengenai obat-obatan dan kesehatan. Pertama, di dalam artikel mengaitkan bahwa sistem RS yang ada sekarang ini adalah sistem bisnis yang hanya meraup keuntungan semata dan mengalirkan dana pengobatan hanya untuk tenaga medis dengan cara mengumpulkan orang-orang sakit sebanyak mungkin. Hal ini perlu diluruskan, sistem RS yang seperti apa dulu. Dana pengobatan yang dilimpahkan kepada pasien adalah suatu bentuk imbalan atau timbal balik atas jasa medis yang disediakan oleh pihak RS. Imbalan tersebut tidak serta merta hanya meraup keuntungan tapi juga sebuah imbalan yang diperuntukkan bagi teknologi kesehatan yang digunakan (mis: X-Ray, CT-scan, uji lab) dan dalam bidang kesehatan, produk yang dihasilkan adalah jasa maka dana kesehatan tersebut juga berupa imbalan kepada jasa pelayanan kesehatan. Bagi yang memiliki asuransi kesehatan, maka dana ini dapat di-cover oleh asuransi tersebut. Kalo sistem bisnis seperti yang disebutkan oleh artikel tersebut mungkin sistem RS yang pelayanan kesehatannya tak jelas, pasien dioper-oper dari satu dokter ke dokter lainnya, memungut biaya administrasi yang tak wajar, dan ada medical error di dalamnya. Tapi RS yang seperti ini tidak bisa digeneralisir untuk semua RS karena pada dasarnya RS ada untuk tindakan preventif (mencegah orang untuk sakit) dan kuratif (penyembuhan orang yang sakit). Tindakan preventif yang biasa dilakukan misalnya saja check-up. Seseorang memang harus menjaga dirinya untuk tetap sehat namun jangan lupa banyak faktor di luar diri kita (polusi, beban pekerjaan, virus, bakteri, jamur, makanan yang tidak sehat, merokok) akan dapat menurunkan tingkat kesehatan kita sehingga kita juga perlu upaya untuk menjaga kesehatan ataupun memulihkannya. Dengan demikian RS tidak sama dengan mengumpulkan orang-orang sakit untuk meraup uang tetapi RS adalah sarana kesehatan untuk meningkatkan dan menjaga kualitas kesehatan pasien.

Kedua, obat memang memiliki dua mata sisi yaitu obat dan racun. Ketika dibutuhkan maka obat tersebut dapat menjadi penyembuh namun jika digunakan tidak dengan semestinya (di atas dosis yang disarankan atau disalahgunakan) maka obat ini dapat menjadi racun. Obat-obat sintetik yang ada di pasaran sudah melalui uji-uji laboratorium maupun uji klinik ( melalui orang sakit dan orang sehat) sehingga efek farmakologisnya terhadap tubuh telah diuji keefektifannya sehingga obat ini dapat dijamin keamanan dan kemanjurannya di masyarakat. Untuk pengobatan alternatif seperti bekam, bukan berarti tidak bermanfaat namun uji pengobatan non-obat ini bersifat empiris, jelas harus ditinjau lagi dari uji-uji klinis lainnya (saya kurang tau sudah ada riset tentang ini atau belum). Begitupun dengan obat-obatan dari bahan alam (seperti habbatussauda) harus diuji lagi secara lab (dengan tahapan in vitro-in vivo) dan klinik tentunya sehingga bukti efek farmakologisnya menjadi nyata, dan yang sudah banyak penelitian tentang bahan namun belum sampai ke uji klinik karena biayanya yang cukup mahal.

Ketiga, sudah sepatutnya kita membuka diri dan tidak berpikir sempit tentang pengobatan modern yang ada sekarang. Dunia pengobatan saat ini bahkan sudah mencapai pengobatan dengan target molekuler (sampai ke protein atau reseptor di dalam sel) dan tentu saja membutuhkan peralatan yang semakin canggih pula. Hal ini akan berbuntut dengan biaya pengobatan yang semakin mahal. Tidaklah sesuatu yang menyimpang maka kita sebut ia fitnah atau bahkan haram, tentu saja kita harus melihat sisi manfaat dan mudharatnya terlebih dahulu. Tentu saja pengobatan-pengobatan yang semakin mutakhir ini tidak langsung kita tolak tetapi kita terima jika sesuai dengan batasan-batasan yang Islam gariskan. Wallahu ‘alam bis showab.

##jawaban atas pertanyaan seorang kawan 🙂 ##


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s