dunia pengobatan, BANGKITLAH!


Tren dunia perobatan terkini adalah berusaha kembali ke alam “back to nature” . Di sana-sini, mulai dari para ahli kecantikan, ahli pengobatan herbal, apoteker, hingga masyarakat awam pun  mendengung-dengunkan jargon tersebut. Apalagi dengan melihat potensi Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia yang luar biasa sungguh masih banyak yang harus dieksplor  dan dikembangkan.. Namun, adakah pemerintah tersadar akan hal ini?

Berkecimpung dalam berbagai penelitian yang berbau fitomedicine membuat saya tersadar akan beberapa hal. Memang, penelitian-penelitian di farmasi kerap dilakukan, akan tetapi, ini baru penelitian-penelitian hulu. Tanaman A bisa berefek antikanker, tanaman B bisa menurunkan kadar kolesterol, hewan C bisa menurunkan kadar gula darah, dan lain sebagainya. Tapi bagaimana hasil penelitian ini bisa sampai ke masyarakat? Bagaimana penelitian ini dapat dengan mudah diterapkan pada masyarakat awam sekalipun. Salah satu sebabnya adalah hubungan pemerintah-akademisi-industri tidak dalam satu jalur yang sinergis dan saling membangun. Pemerintah membuat ketetapan sendiri, akademisi meneliti ini-itu tapi tidak sampai ke telinga pemerintah, dan industri memproduksi obat berdasarkan laba bukan efek fungsinya serta tentu saja, obat sintetik.

Terpikir oleh saya , andaikan ada suatu system yang mampu merangkul  penelitian dari hulu-hilir kemudian diaplikasikan oleh dunia industry perobatan yang dilindungi oleh ketetapan pemerintah, sungguh akan memberikan dampak yang nyata dalam perkembangan dunia pengobatan herbal kita. Di sini, saya ingin menekankan tiga hal yang perlu kita pikirkan bersama. Pertama, database tumbuhan Indonesia. Adakah yang memiliki secara lengkap? Ada pulakah yang dapat dikonsumsi oleh public sehingga publik dapat   mengakses dengan mudah untuk kepentingan pendidikan atau hanya sebatas keingintahuan. Jika saja kita memiliki database yang memuat seluruh spesies tanaman yang asli Indonesia, yang tersebar di bumi pertiwi kita, dan berisi tidak hanya deskripsi tanaman tapi juga tempat tumbuh yang ada, efek farmakologis (kesehatan), serta efek berbahaya lainnya, tentu para peneliti kita akan mudah untuk mengalokasikan fokus penelitiannya. Sehingga tidak ada lagi penelitian yang dobel dan semua data dapat terintegrasi menjadi satu. Namun, hal ini tidak dapat dikerjakan oleh orang per orang atau institusi per institusi tapi merupakan proyek bersama layaknya Human Genome Project (HGP) yang dilakukan oleh para peneliti di seluruh dunia. Ya, ini adalah proyek bersama antara farmasis, biologis, dan kawan-kawan informatika.

Kedua, dengan adanya database kita akan dapat memetakan tumbuhan obat di Indonesia dan membuat agromedicine. Ya, lahan untuk menanam tumbuhan obat dan membudidayakannya. Dengan demikian, akan lebih mudah bagi kita dalam mengakses dan memproduksi fitomedisin. Ketiga, ketika agromedicine telah berkembang maka hal utama yang perlu dipikirkan adalah bentuk produk. Bagaimana produk yang dapat dengan mudah dikonsumsi dan disenangi masyarakat. Desain seperti apa yang menarik dan lain sebagainya. Ketiga hal ini merupakan suatu kontinuitas yang tidak boleh berhenti di tengah jalan dan membutuhkan waktu yang lama untuk mewujudkannya. Oleh karenanya diperlukan adanya kerja sama ketiga elemen yang bersangkutan, yaitu peneliti(akademisi)- pemerintah-industri. Kita tak bisa lagi diam melihat wabah penyakit dimana-mana, tingkat kesehatan masyarakat yang tak kunjung baik, membiarkan warga negara kita memilih pengobatan di luar negeri. Tapi yang harus kita lakukan adalah BANGKIT dengan kemampuan kita sendiri, menggalang kerjasama untuk negeri kita dan mempersembahkan sistem kesehatan yang lebih baik lagi. Bukan untuk uang, ambisi, popularitas, dan jabatan tapi untuk ILMU PENGETAHUAN dan MASYARAKAT KITA SENDIRI

2 thoughts on “dunia pengobatan, BANGKITLAH!

  1. terima kasih, mas fadjar🙂 iya, saya juga merasa itu sulit padahal potensi kita (Indonesia) sangat besar, semoga saja suatu saat, keinginan saya ini bisa diwujudkan, amin.
    oh ya, tentang informasi bukunya, terima kasih ya!🙂 saya akan cari

  2. Ide yang menarik. Sinergi antara academician, business and Government (ABG) memang masih sulit dilakukan di Indonesia.
    Btw, ada buku yang menarik tentang soal ini, judulnya Simfoni Inovasi karangan bapak Kusmayanto Kadiman. Di situ ada dialog beliau dengan pimpinan Kalbe pak Boenjamin dan pimpinan Sido muncul pak Irwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s