Stop Berteriak!

Tahun lalu saya masih kesulitan untuk mengatur intonasi anak-anak di rumah, namun secara tidak sadar saya pun lupa ternyata intonasi suara saya juga tinggi. Saya dibesarkan di keluarga sumatera dan tentu saja dengan orang tua yang biasa saja memanggil atau berbicara sangat bersemangatπŸ˜„ Hal inilah yang akhirnya menurun ke cara saya membesarkan anak. Namun, saya ingin berubah dan mengajak suami untuk berubah. Nyatanya berteriak atau bersuara tinggi tidak akan menyebabkan anak menjadi patuh, takut, berhenti tantrum, atau mendengarkan nasihat orang tua. Saya menemukan tips ini awalnya dari webΒ yourmodernfamily,Β setelahnya saya menemukan lagi di postingan ayahedy, dan beberapa artikel lainnya. Berikut kesimpulan yang saya dapatkan:

  1. Ajari anak apa konsekuensi jika melakukan hal yang disepakati dan jika tidak melakukannya. Hal ini akan mengajarkan kepemilikan terhadap kesepakatan tersebut. (Untuk anak balita sepertinya belum bisa, belum mengerti konsekuensi, tetapi kalau mau mulaiΒ sounding boleh sih. Di saya mulai agak berpengaruh setelah beberapa bulanΒ soundingΒ hohoho)
  2. Stop berteriak, turunkan intonasi, berbisiklah.Β Iya, berbisik jadi anak yang memang masanya mengekor apa yang dilakukan orang tuanya akan mengikuti.

Beberapa waktu lalu pada saat mengikuti seminar bu Elly Risman, ada beberapa tips tambahan:

  1. Hampiri anak, sejajarkan tubuh kita (menunduk atau berjongkok), lalu berbisik
  2. Tidak dengan intonasi marah tetapi tetap tenang (turunkan intonasi).

Tips-tips di atas sungguh berat di awal tetapi namanya usaha insya Allah ada hasilnyaπŸ™‚ walau perlahan-lahan Alhamdulillah kebiasaan ini mulai menghilang di keluarga kami (walau tetap satu dua kali ada, keturunan sihπŸ˜„πŸ˜€ ). Mama bisa menasihati tanpa tarik urat *LOL*, anak dapat menyampaikan apa yang dia mau, dan tentu saja aturan bisa ditegakkan dengan keadaan lebih damai.

 

Memancing ala Rumah

Aktivitas ini saya perkenalkan ke anak-anak ketika mereka sedang suka-sukanya memancing ala-ala karena pergi ke suatu tempat rekreasi dan setiaaapp hari minta memancing lagi. Alat pancing pura-pura sudah bertebaran entah dimana dan sang mama tidak rela kalau harus membeli lagiπŸ˜„ akhirnya saya mendapatkan ide ini.

Bahan:

  • Kertas bufalo warna-warni
  • Klip kecil
  • Alat tulis
  • Gunting
  • Magnet berbentuk cincin
  • Lidi
  • Benang
  • Baskom

Cara Membuat:

  1. Gambar ikan (beserta mulut dan insang) pada kertas bufalo dengan ukuran sedang (sesuaikan dengan besarnya magnet, jika terlalu besar, “ikan” tidak dapat terangkat)
  2. Pasang Klip pada bagian mulut ikan
  3. Ikat benang ke sebuah lidi dan klip
  4. Letakkan ikan-ikan di sebuah baskom
  5. Biarkan anak memancing ikan (tidak boleh dipegang tangan)
  6. Jika ikan sudah habis maka hitung ikan yang didapat masing-masing anak

Tujuan:

  1. Bermain (tentu saja)
  2. Melatih otot tangan dan motorik halus
  3. Melatih kesabaran
  4. Berlatih menghitung

Pendididan Seks dan Seksualitas pada Anak

Kisah Yuyun dan anak-anak korban kekerasan seksual lainnya tentu membuat pikiran orangtua terutama ibu gelisah. Bagaimana caranya kita sebagai orang tua melindungi anak-anak kita, dan ternyata hal sebab musababnya begitu panjang. Belakangan ketika mengikuti seminar bu Elly Risman saya diperkenalkan dengan buku Narkolema (akan diulas kemudian) yang membuat saya semakin khawatir dengan derasnya teknologi yang masuk ke Indonesia. Namun demikian, bukan berarti sebagai orang tua kita menolak mentah-mentah perkembangan zaman namun bagaimana menjadikan teknologi sebagai sahabat dan apa yang harus dilakukan untuk membentengi anak-anak kita dari kecenderungan ke arah hal-hal negatif. Saya sempat berdiskusi dengan suami dan dulu ketika zaman sekolah dan kuliah, kami termasuk yang aktif ini itu, memiliki kegiatan ini dan itu. Dan topik dari bu Ani Ch di bawah ini membuat saya sedikit lega, bahwa sebagai orang tua kita bisa mengantisipasi anak-anak kita ke depannya yaitu dengan memberikan aktivitas yang bermanfaat. Untuk anak-anak usia baligh dengan semangat meletup-letup tidak untuk dibendung namun dialirkan ke aktivitas yang kaya dan bermanfaat. Saya rasa akan sangat berguna pula untuk semuanya. Selamat membaca!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Psycho Coffee Morning
For Parents

Oleh : Ani Ch, penulis buku & pemerhati pendidikan keluarga

β–ͺβ˜•β–ͺβ˜•β–ͺβ˜•β–ͺβ˜•β–ͺ

Teman…
Dalam ‘Parent Edition’ saya ingin mengajak untuk berdialog tentang hubungan orangtua dan anak-anak.
Anak yang jadi amanah terindah bagi para orangtua, karena walaupun telah tiada, pahala kita akan tetap mengalir dari do’a dan kesholihan anak-anak kita..
Anak yang juga amanah terberat bagi orangtua, karena ketika kaki kita sudah menapak di surga, dan ternyata anak kita ada di neraka, maka kita bisa terseret kesana..

πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²

Selasa, 17 Mei 2016

Pendidikan Seks & Seksualitas pada Anak
(Bagian 9)

πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²

Berita perkosaan YY di Bengkulu menyulut berita-berita sejenis muncul..di Makasar terjadi pemerkosaan beramai-ramai, bedanya ‘si korban’ masih hidup. 2 hari yang lalu saya baca media, bu Risma walikota Surabaya un melakukan investigasi kasus serupa di Surabaya.

Teman, saya pikir sudah cukuplah kejadian ini…terlalu banyak mungkin kejadian, yang terus berulang…kemudian menyadarkan kita betapa ‘salahnya’ nya pendidikan kita..pendidikan di sekolah..dan tentu pendidikan di keluarga.

Bahkan menteri sosial pun mengatakan bahwa kesalahan utama adalah ‘tidak semua keluarga tahu fungsi keluarga’ dan ‘tidak semua orangtua punya parenting skill’.Lha iya bu…lak yo tugas negara membuat keluarga2 di Indonesia ini paham dan akhirnya tahu parenting skill…#geram.com

Oke baiklah…kita sebagai keluarga memang harus belajar sendiri…ayuuuk sama-sama belajar lagi..

Judul kita hari ini adalah belajar menghindarkan anak-anak kita agar tidak jadi pemerkosa…hmmmm mbayangin aja serem..

πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘¨πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²

Satu pembuka dulu yg ingin sya sharingkan hari ini…

Beberapa tahun yg lalu saat saya diamanahi untuk jadi konselor sekolah tingkat SMA, salah satu tugas saya adalah mendisain aktivitas anak. Sekolahnya tipe full-day, masih ditambah tambahan belajar semi privat untuk anak-anak khusus, masih ditambah dengan PR harian yang harus dikerjakan di rumah. Intinya full beban akademis.

Ini masih ditambah proyek life-skill yang waktu mengerjakannya mungkin butuh akhir pekan mereka. Ada proyek mengumulkan buku bekas untuk bakti sosial, ada tugas menyusun karya ilmiah berupa riset, ada kegiatan mengajar anak SD, ada tugas mempersiapkan diri jadi khotib Jumat, pemberi tausiah, dll. Sebagian anak yang ikut ekstrakurikuler atau mendapat jabatan pengurus OSIS bahkan siap menginap di sekolah jika ada event. Sepanjang tahun…ada kegiatan..

Lha kok sibuk banget? Ya memang dibikin ‘sibuk’. Apakah tidak membebani anak? Ya memang membebani. Apakah tidak mendholimi anak? Naaah, yang ini jawabnya in syaa Allah tidak.

Kami mengambil garis kepercayaan bahwa anak di usia baligh ‘wajib sibuk’, mereka harus selalu punya aktivitas terstruktur dan bertujuan di setiap ‘waktu luang’ mereka. Anak-anak yang sudah memiliki ‘gelora seksual’ karena kondisi biologis dan hormonal ini perlu dicarikan ‘pengalihan’ agar geloranya tidak mengarah dominan pada kebutuhan interaksi seksual tapi menjadi ‘gelora berprestasi’

Apakah anak tidak stres dengan beban yang banyak? Stres pastinya ada, maka memang pendampingan emosi perlu dilakukan, memastikan mereka punya saluran curhat dan pertemanan yg positif. Dan dari pengamatan saya…sebagian besar anak merasa semakin mereka ‘sibuk’ semakin mereka merasa bearti dan bersemangat. Bahkan harga diri juga kepercayaan diri mereka meningkat saat mereka ‘berkarya’.

Saya bahkan pernah membuat catatan bahwa ‘pengembangan hobi’ adalah wajib dilakukan anak yang memasuki usia baligh..agar hasrat seksualnya tidak menjadi dominan karena tersalurkan energinya dalam kegiatan hobinya.

πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²

Mari kita bayangkan…andaikan para pemuda pemerkosa YY itu punya ‘kesibukan bermakna’ dalam kehidupan sehari-hari mereka..tidak akan sempat minum miras, tidak akanlah kepikir untuk sering lihat-lihat tayangan pornografi…dan bisa tidak terlintas untuk mencari sasaran ‘pelampiasan’ hasrat seksual mereka. Kenapa? Karena hasrat itu teralihkan pada aktivitas produktif..

Maka adalah kewajiban bagi semua keluarga untuk memastikan anak-anak mereka punya aktivitas terstruktur sepanjang hari..juga sepanjang akhir pekan. Agar hasrat seksual di masa baligh dapat dikendalikan.

Dan andaikan saja, ada perda atau peraturan pemerintan yang bisa memberikan sanksi : bagi orangtua yang tidak bisa mengatur aktivitas anaknya, maka anaknya akan diambil alih oleh negara untuk diarahkan pada lingkungan dengan aktivitas terstruktur lebih baik…hehehe…mimpi….

πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²

Oke bahasan selanjutnya..untuk menghindarkan anak-anak kita menjadi pelaku pemerkosa maupun korban perkosaan adalah mengajari anak untuk menundukkan pandangan juga menjaga kemaluan, kita bahas besok in syaa Allah.

πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²πŸ‘§πŸ»πŸ‘²

For web version, please visit http://www.psychocoffeemorning.com

For feedbacks, questions, requests, and further discussions, please email to : psychocoffeemorning@gmail.com

For join fanpage on Facebook, please click: on.fb.me/1jmcjEG

Perkembangan Bahasa Bayi 0-2 Tahun

Hari ini saya akan posting materi terkait perkembangan bahasa anak. Adapun bahan saya dapatkan dari grup WA Rumah Main Anak. Berhubung paperless jadi catatan-catatan terkait parenting akan saya post juga di blog, sebagai pengingat pribadi agar terus berusaha lebih baik untuk anak-anak dan informasi untuk semuanyaπŸ™‚

πŸ“ Resume Materi Kuliah WhatsApp Grup Rumah Main Anak 5,6,7

🎞🎞🎞🎞🎞🎞
Judul materi: Perkembangan Bahasa Bayi Usia 0-2 Tahun
Hari/tanggal: Selasa / 17 Mei 2016
Pemateri: Puti Ayu Setiani, S.Psi
Peresume: Aprida

MATERI KULIAH
🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨

Tiga tahun pertama kehidupan saat dimana otak sedang berkembang dan mematang merupakan periode yangΒ  intensif dalam perkembangan kemampuan bicara dan bahasa bayi. Ketrampilan ini akan berkembang baik melalui suara, hal yang dilihat, paparan yang konsisten yang didapatkan dari pembicaraan dan bahasa orang di sekitar bayi.

Tanda-tanda bayi berkomunikasi terjadi ketika bayi belajar bahwa menangis akan membawa makanan, kenyamanan, dan perhatian. Bayi yang baru lahir juga mulai mengenali suara penting dari lingkungannya, seperti suara ibu atau pengasuh utama. Umumnya pada usia 6 bulan, bayi mulai mengenali suara dasar bahasa utama mereka.
Berikut merupakan capaian perkembangan bahasa bayi:

🐣0-3 bulan
Bereaksi terhadap suara keras
Merasa tenang atau tersenyum ketika ada yang mengajaknya berbicara
Mengenali suara pengasuh utama dan menjadi tenang saat mendengarnya (ketika menangis)
Ketika diberi makan (ASI) mulai atau berhenti menghisap untuk merespon suara
Mengoceh seperti β€œaah”, β€œuuh” (cooing) dan membuat suara yang menyenangkan
Memiliki tangisan-tangisan khusus untuk kebutuhan yang berbeda (biasanya tangisan ketika lapar, mengantuk akan berbeda caranya)
Tersenyum ketika melihat bunda atau pengasuh utama

🐣4-6 bulan
Mengikuti suara melalui mata mereka
Berespon bergantung intonasi suara Bunda atau pengasuh utama
Menyadari bahwa mainan dapat menimbulkan bunyi
Memberi perhatian pada suara-suara berirama atau musik
Mulai babling (papapa, bababa, mamama)
Tertawa
Melakukan babling ketika gembira atau tidak senang
Mengoceh ketika sendiri atau sedang bermain bersama orang lain

🐣7 bulan -1 tahun
Senang saat bermain cilukba
Menoleh dan melihat asal suara
Menoleh ke asal suara ketika dipanggil namanya
Mulai menyadari nama pengasuhnya dan akan bereaksi ketika nama pengasuhnya disebut
Mulai dapat mengungkapkan persetujuan atau ketidaksetujuan dengan mengangguk atau menggelengkan kepala
Mendengarkan ketika diajak berbicara
Tersenyum dan menangis untuk mengekspresikan perasaan mereka
Memahami kata-kata umum seperti, botol, sepatu, minum
Memberikan perhatian untuk perintah sederhana seperti β€œNo”, atau β€œKasih ke Bunda”.
Memahami kata β€œtidak” namun tidak akan selalu mematuhinya
Babling dengan menggunakan rangkaian suara seperti β€œtata, bibibi, upup”
Babling untuk mendapatkan perhatian
Meniru beberapa suara
Dapat mengucapkan satu atau dua suku kata di ulang tahun pertamanya (misal, mama, hi, dsb).
Berteriak untuk mendapatkan perhatian

🐣1-2 tahun
Mengetahui beberapa bagian tubuh dan dapat menunjuknya ketika ditanya
Mengikuti perintah sederhana (misal: “lempar bolanya”) dan memahami pertanyaan sederhana (“dimana sepatu adek?”)
Menikmati ketika mendengarkan cerita pendek dan sederhana, lagu, atau alunan irama
Menunjuk gambar, ketika disebutkan, yang ada di dalam buku
Mampu bertanya beberapa pertanyaan mengenai orang atau sesuatu (misal, cicak mana? Pergi?)
Menggunakan dua kata bersama (misal β€œmau lagi”)
Menggunakan berbagai macam konsonan di permulaan kata
❀Beberapa hal yang dapat dilakukan
πŸ’­Mengajarkan bergiliran berbicara yang merupakan aturan sosiolinguistik pertama. Contohnya ketika Bunda mengatakan β€œSiapa yang pintar?”, Bayi akan berespon dengan suara, lalu Bunda bisa meresponnya dengan mengatakan β€œIya, anak Bunda ya pintar”.
πŸ’­Dengarkan Bayi, jangan menyela bayi ketika sedang asyik mengoceh, tunggu sampai ia berhenti.
πŸ’­Matikan televisi atau perangkat suara lain ketika sedang belajar berkomunikasi dengan bayi Anda.
πŸ’­Bacakan buku cerita sederhana ketika tidur. Selain sebagai sarana untuk mengajarkan kata-kata baru, menunjukkan hubungan kata dengan gambar, hal ini juga dapat meningkatkan kelekatan antara anak dengan Bunda.
Karena saya salah mengingat jadwal materi apa yang harus diberikan (yang saya siapkan sebelumnya malah mengenai perkembangan sosial-emosional, 😝), semoga yang singkat dan sedikit ini dapat memberikan manfaat bagi Bunda semua. Mohon maaf atas segala kekurangan πŸ™. Semoga bermanfaat 😘
Sumber:
http://www.nidcd.nih.gov

Semoga bermanfaat πŸ‘‹πŸ˜€
🎨🎨🎨🎨🎨🎨🎨
γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°
Tim Divisi Materi Rumah Main Anak
γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°

β”βœ…TANYA JAWAB

1. Bagaimana ketika ada yg malah mengajak komunikasi bayi dg bahasa bayi? Apakah akan menghambat kemampuan bahasa bayi yg sesungguhnya? Dan seberapa besar pengaruh keterlambatan bahasa akibat televisi? (Akmalya, jakarta, 18m, RMA5)

Jawab:
Halo mba Akmalya. Kami sih tidak merekomendasikan penggunaan bahasa bayi saat berbicara dengan bayi. Misal dengan dicadel-cadelkan, adik mau ‘cucu’? Untuk apa, toh saat besar nanti kita tak berharap anak-anak kita berbicara dgn cadel. Kita tentunya berharap anak-anak kita berbicara normal bagaikan orang dewasa pd umumnya. Jika kita berharap anak-anak kita bicara normal, maka tentunya akan lebih baik jika kita memberikan contoh bahasa yg benar (tidak menggunakan bahasa bayi/dicadel-cadelkan). Sebab anak-anak menyerap dan mencontoh apapun di sekitar mereka, termasuk juga bahasa. Terkait TV, tergantung durasi penggunaannya juga Mba. Seberapa lama anak terpapar dengan TV tersebut? Apakah menontonnya dengan pendampingan orang dewasa? Apakah setiap hari kegiatannya lebih banyak di depan TV dan minim stimulus bahasa yg lain, seperti membacakan buku, bercerita, bernyanyi, dll? Saat ini, saya pribadi belum menemukan penelitian ttg pengaruh TV dengan keterlambatan bahasa anak, Mba. Karena keterlambatan bahasa (speech delay) sangat kompleks sekali. InsyaAllah Jum’at nanti kita bahas bersama ya ttg speech delay. Tetap semangat βœŠπŸ½βœ…

2. Bagaimana Cara menstimulasi Bayi 10m agar bisa lebih cepat berbicara, selama ini sy memberikan flash card sambil disebutkan flash card nya, apakah cara ini efektif? Anak sy baru bubbling, kata yg jelas baru ya, hi, ma..
Sena/bandung/10m/RMA5

Jawab :
Halo Mba Sena yg bersemangat. Wajar kok Mba 10m bayi masih babling. Biasanya, meskipun anak belum bisa menyebutkan kata dgn jelas, tp sudah ada beberapa kata yg ‘bermakna’ menurut mereka. Misal, selalu mengatakan ‘nen’ untuk minta ASI, ‘num’ untuk minum, ‘ya’ untuk Ayah, dll. Usia 10-14 bulan biasanya bayi mulai mengucapkan kata pertamanya. Memang harus sabar-sabar, Bun. InsyaAllah anak kita sedang belajar dan berkembang. Sama halnya saat mereka belajar tengkurap-duduk-merangkak-berdiri, maka belajar bahasa pun memerlukan proses. Stimulasi lain yg bisa diberikan selain flashcard ialah membacakan buku, menyanyi, bercerita, berbicara dengan jelas-pelan (tidak dicadel-cadelkan), meminta anak memperhatikan gerak bibir kita saat berbicara, dll. Tetap semangat πŸ˜˜βœ…
3. Bagaimana dengan penggunaan bahasa asing yang digunakan dalam komunikasi harian dengan anak2? Misalnya dr bayi dibiasakan dengan b. Indonesia dan b. Inggris
Terima kasih
Ayu, Asma 17m, RMA 5

Jawab:
Halo Mba Ayu yg baik. Penggunaan bahasa asing boleh-boleh saja dikenalkan pd anak asalkan penggunaannya konsisten dan tidak campur aduk. Konsisten di sini ialah: ibu selalu menggunakan bahasa Indonesia pd anak, dan ayah menggunakan bahasa Inggris pd anak (atau sebaliknya). Saat berbicara, disarankan menggunakan kalimat yg utuh,
misal: “This is banana. Ini pisang.”
Bukan “Ini banana.”
Dengan demikian anak lebih mudah memahami kapan ia harus menggunakan bahasa Indonesia, kapan menggunakan bahasa Inggris. Serta, hal ini pun meminimalisasi anak untuk bingung bahasa juga speech delay. Jika dilakukan dengan tepat dan sesuai, InsyaAllah anak-anak kita mampu menggunakan bahasa tersebut sesuai konteksnya Bun. Percayalah anak-anak kita merupakan anak2 yg cerdas. SemangatβœŠπŸ½βœ…
4. apakah benar anak yg bicara dulu/tumbuh gigi dulu jalannya terlambat?bagaimana peran ayah saat perkembangan bicara anak sy skrg??
Whidha ayu p, manokwari, 8bln, RMA5

Jawab:
Halo Mba Whidha di Manokwari. Tidak selalu anak yg bicara/tumbuh gigi lbh dulu maka berarti jalannya lama. Perkembangan yg baik adalah yg seimbang di tiap aspek-aspeknya. Kalau ada aspek yg lebih cepat, bisa juga. Tp jika terlalu timpang dengan aspek lainnya maka tidak baik juga. Sehingga, perlu stimulasi yg seimbang di tiap-tiap aspek perkembangannya. Ikuti milestonenya saja, Bun. Peran ayah dan ibu sama saja sih Mba terkait perkembangan bicara anak. Ayah-Bunda bisa bekerja sama membacakan buku, bercerita, mengajak ngobrol, bernyanyi, mendengarkan murotal/tilawah (bagi yg muslim), dll. Tetap semangat, Bunda βœŠπŸ½βœ…
5. Assalamualaikum
-Kapan sebaiknya di kenalkan huruf hijiyah dan huruf abjad ke bayi untuk menunjang dalam berbahasa baik bahasa arab maupun bahasa indonesia..??
-bagaimana cara kita untuk meminimalisir pengaruh bahasa lingkungan yang negatif, misalnya bahasa sunda yg kasar??
(Una,Bogor,Adzkiya,RMA 6)

Jawab:
Wa’alaikumsalam wr wb Mba Una.
-Tidak ada patokan khusus kapan sebaiknya anak dikenalkan huruf latin maupun hijaiyah sih, Mba. Disesuaikan dengan visi-misi keluarga dan kenyamanan anak saja. Jika visi keluarga ingin menjadikan anak hafidz sedini mungkin, masa silakan dipaparkan hijaiyah sejak kecil dengan cara yang paling lembut dan cocok untuk anak. Salah satu tim ahli RMA, yaitu Mba Judith, anaknya sudah mampu membaca Al-Qur’an hingga selesai sebelum usianya genap 4 tahun. Menurut saya, selama anak nyaman dan enjoy, hal tersebut tidak masalah. Jd, selain cara, tetap diperhatikan anaknya ya, Bun. Anak-anak yang terpapar huruf sejak bayi (misal, saat bayi sudah suka kita bacakan buku cerita) maka bisa jadi lebih cepat ‘sadar huruf’ (senang bertanya, ini huruf apa namanya?) dibandingkan anak yg lebih sedikit paparannya.
-kita memang tidak bisa senantiasa mengimun anak-anak kita dr hal2 yg tak kita inginkan ya, Mba. Tp kita bisa selalu berusaha ‘memperbaiki kembali apa yg salah/tidak sesuai’. Jika ingin meminimalisasi pengaruh yg buruk, sebisa mungkin dijauhkan/dihindarkan dr paparan tersebut, Mba, memperbaiki kosa kata yg salah, serta memberi tahu mana yg baik dan mana yg tidak baik pd anak. Tetap semangat ✊🏽 βœ…

6. Assalamu’alaikum..
mba mau nanya, anak saya memang udah 2 minggu ini suka nya teriak2, dan teriak2 nya itu bs sampe batuk.. bagaimana cara mengatasinya agar tdk teriak2 ya mba? terimakasih..(buniya,purbalingga,7m,RMA6)

Jawab:
Wa’alaikumsalam Bunda Buniya. Bayi berteriak pd usia ini memang wajar Bun utk mendapatkan perhatian dr Bunda. Ketika ia menginginkan sesuatu atau menunjuk sesuatu, dengan berteriak ia ingin Bunda memberi perhatian kepadanya agar keinginannya tersebut terpenuhi. Karena masih 7m, anak masih belum paham ya Mba jika kita katakan padanya ‘tidak perlu berteriak, Nak’. Tp, bisa kita coba dengan mengucapkan apa yg ia inginkan, misal saat anak berteriak, ‘adik mau apa? Oohh..adik mau mobilan.’ sehingga, lambat laun anak akan belajar mengasosiasikan kalau benda tersebut punya nama. Dan seiring perkembangan bahasanya, ia tidak lagi berteriak untuk mengatakan keinginannya. Semangat Bun ✊🏽 βœ…

7. Apakah benar bahwa anak yg dominan otak kanan, kemampuan bicara ato bahasany sdkt lebih lambat dibanding yg dominan otak kiri? Dan apkh kemampuan bahasa pd bayi turut pula didukung oleh tekstur makanan mpasi yg diberikan?
(Indri, Kuningan, (3y8m & 8m), RMA 6)

Jawab:
Halo, Bunda Indri di Kuningan, yuk kita lihat teks berikut ini, diambil dr myuniquecorn.blogspot.co.id/2012/07/bahasa-dan-otak.html?m=1 (tp sumber aslinya tdk tertulis dr mana πŸ™πŸΌπŸ˜­)

Otak terdiri dari dua belahan (hemisfer) yakni, hemisfer kiri dan kanan. Fungsi otak kiri terutama berperan dalam perkembangan bahasa dan bicara, karena mengatur kemampuan berbicara, pengucapan kalimat dan kata, pengertian pembicaraan orang, mengulang kata dan kalimat, disamping kemampuan berhitung, membaca, dan menulis. Otak bagian kiri memiliki fungsi utama untuk mengatur aktivitas yang bersifat teratur, berurutan, rinci, sistematis, dan matematis.

Fungsi otak kanan berperan dalam bahasa non verbal seperti penekanan dan irama kata, pengenalan situasi dan kondisi, pengendalian emosi, kesenian, kreativitas, dan berpikir holistik.

Jika kita lihat dari fungsi otak di atas, maka bisa kita lihat bahwa otak kiri yg lebih ‘berpengaruh’ terhadap perkembangan bahasa. Namun, banyak faktor lain sih Mba terkait perkembangan bahasa anak, seperti keturunan, faktor situasional (stimulus) juga faktor lainnya, misal: organ wicara.

Tekstur makanan juga cara makan bisa berpengaruh, Mba. Misal, saat anak mengunyah sesuatu yg keras maka rongga dalam mulutnya akan berbeda cara mengunyahnya dengan makanan lembut. Begitu pula misalnya saat anak kita berikan puree apel, potongan apel, dengan apel secara utuh. Anak tentunya akan makan dengan cara yg berbeda. Saat makan potongan apel mulut cenderung membentuk huruf ‘e’, saat (mencoba) makan apel secara utuh mulut anak akan belajar membentuk huruf🏁 ‘o’. Semoga bisa dipahami ya, Mba. ✊🏽 βœ…

8. Dikatakan Indikator krusial usia 2tahun awal, apa ya mb terkait perkembangan bahasa anak? Anak sy sejauh ini bs menyebutkan pertanyaan/pernyataan sederhana, misal..
” abi mana bun, abi?”
” bun, hujan bun.”

Menyebutkan anggota badan sambil ditunjuk

Untuk bbrp kata penyebutannya msh blm sempurna bahlan kdg hanya disebut akhirannya saja. Misal, sepatu-> patu
(Nindya,depok,23m20d,RMA6)

Jawab:
Halo Mba Nindya, normally anak usia 18-24 bulan sudah mampu:
-minimal menyebutkan 10-20 kata termasuk namanya
-memahami perintah sederhana

Jika dilihat dr apa yg Bunda sampaikan, masih sangat normal dan on the track kok, Mba. Ga usah khawatir. Tetap semangat✊🏽 βœ…

9. Ketika anak sudah mulai berbicara, ketika menunjuk gambar dia menyebut dengan benar, misal ‘truk sampah’, sebaiknya kita mengiyakan atau memberi pertanyaan lanjutan semisal “yang mana? Warnanya apa?”
Putri / Bintaro / 21m / RMA7

Jawab:
Halo, Mba Putri yang baik. Betul, Mba. Tidak masalah sebenarnya untuk memberi pertanyaan lanjutan pada anak. Boleh-boleh saja. Hal ini bahkan baik untuk mengembangkan bahasa anak. Selama anak nyaman dan senang menjawabnya, it’s oke. Tetap semangat ✊🏽 βœ…
10. Stimulasi apa yg sangat baik buat bisa melatih batita ber kata yg punya arti dan tidak bubbling lagi? Misalnya ada orang bertanya “papi nya kemana?”, Dia menjawab “kerja”. Dan umur brapa kategori batita itu terlambat berkata atau berbicara?
Rinda / Padang / 1y6m / RMA7

Jawab:
Mba Rinda yang semangat, sama halnya dengan perkembangan motorik kasar: anak kita bertahap bisa tengkurap, duduk, merangkak, berdiri, hingga akhirnya berjalan. Untuk perkembangan bahasa pun ada tahapannya pula, dimulai dr cooing, babling, mengucap kata, menyusun kalimat, hingga mampu memahami wacana. Meskipun anak kita saat ini masih babling, usahakan kita tetap mengucapkan kata tersebut secara utuh. Normally, anak usia 12-18 bulan sudah bisa menyebutkan minimal 3-5 kata. Untuk keterlambatan bicara, hari Jum’at nanti saat materi Speech Delay akan kita bahas lebih lanjut ya. Sebab, tiap usia berbeda-beda pencapaiannya, berbeda-beda berapa kata yg harus dimilikinya. Jd, speech delay ini dilihat dr perkembangan bahasa tiap-tiap anak, tidak ada patokan usia khusus. Ditunggu ya Mba, materi hari Jum’at nanti. Tetap semangat ✊🏽 βœ…
11. Assalamualaikum.
Anak saya, Bumi, 24mo. Kalau bicara, yang diucapkan hanya suku terakhirnya saja. Misal “Bumi baca buku”. Jadi: “mi ca ku”. Kalimat instruksi sudah paham. Sudah bisa diminta bantuannya. Tapi terkadang kalau diajak ngbrol, masih suka pakai bahasa planet. Atau pertanyaan saya diulang. Misal saya tanya, “Bumi lagi apa?” Dia jawab, “apa.” Sering ngoceh dan nyanyi sendiri tapi dengan bahasa planetnya. Saya stimulasi dengan membacakan buku, cerita, bernyanyi, juga mengeja. Kalau mengeja, misal: bola-> bobo-lala-bola. Sekali dua kali dia mau. Tapi lama-lama jahilnya keluar terus sengaja jawab pake bahasa planetnya lagi sambil ketawa2.
Itu gimana ya bun? Apakah masih tahap wajar? Stimulasi apa yang bisa saya berikan untuk melatih perkembangan bahasanya bun? Terimakasih.
Rini / Purwokerto / Bumi-24m / RMA7

Jawab:
Wa’alaikumsalam wr wb mba Rini dan Bumi yang lucu. Apakah Bumi sudah mampu mengucapkan sebuah kata secara utuh Mba? Atau semua kata diucapkan hanya suku kata terakhirnya saja? Normally, anak usia 18-24 bulan anak sudah mampu minimal menyebutkan 10-20 kata, termasuk namanya (meski bisa jd pengucapannya belum sempurna). Stimulasi yg Mba Rini lakukan untuk Bumi sudah sangat baik. Lanjutkan, Mba ✊🏽 Btw, untuk mengeja lebih baik dengan fonem saja tp Mba. Misal, BOLA, maka dieja ‘beh-o-el-a’ agar anak mengetahui sumber asal pengeluaran hurufnya (kalau bahasa Arab, kita nyebutnya makharijul huruf). Untuk ‘jahil’ wajar kok, Bun. Kadang anak-anak hanya berusaha mencari perhatian orang dewasa di sekitarnya saja. Saat mereka berbahasa “planet” dan respon kita ‘berbeda’ dgn saat mereka berbicara seperti biasa, maka sebenarnya ‘respon’ itulah yg mereka cari. Tetap semangat ya, Mba ✊🏽 βœ…

γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°γ€°
Follow us :
Instagram : @rumahmainanak
Fanpage Facebook : Rumah Main Anak
Web : http://www.rumahmainanak.com

3rd Birthday Party! (March+13 TUM)

1Minggu lalu kami sekeluarga sudah merencanakan untuk mengikuti perayaan ulang tahun birth club Runi yang ke3 di Bogor. Persiapan sudah jauh-jauh hari, tepatnya persiapan fisik dan mood anak-anak. Anak-anak akan selalu bermain-main hingga lelah tapi tetap memaksakan hingga akhirnya cranky karena kecapekan, tahun ini saya berharap dan merencanakan agar kami bisa melaluinya dengan bergembira.

Seminggu sebelumnya Fatih batuk! Oow, saya sudah khawatir karena biasanya Fatih batuk akibat sensitif terhadap makanan tertentu daaaaan pada akhirnya menular ke kami sekeluarga. Yap, mulai dari saya lalu papanya ikut radang tenggorokan dan batuk, saya sudah waswas apakah kami akan membatalkan kehadiran ke Bogor. Alhamdulillah sehari sebelum bepergian radang saya sembuh sedangkan papa mulai membaik dan Fatih masih sesekali batuk (iyalah ya karena kebiasaan memasukkan jarinya membuat periode batuknya menjadi lebih lama πŸ˜‘)

Pada hari H, kami memastikan ank-anak sudah sarapan terlebih dahulu dan tentu saja saya juga karena sudah dipastikan ketika mengawasi anak-anak, rasa lapar akan menjauh, yang ada saya yang cranky nantinya, haha. Pada saat di perjalanan, Runi mulai mengantuk karena jam tidurnya sudah tiba tetapi tetep dong dikuat-kuatin terjaga agar tidak melewatkan acara kumpul-kumpul nanti.

Setelah sampai di Bogor wah acarany sudah dimulai, anak-anak yang mulai kecapekan malu-malu kucing untuk mengikuti permainan disana hingga harus saya dampingi untuk mengembalikan mood mereka.

Kegiatan pertama, membuat kipas hias oleh Sanggar Boni @sanggarboni, wah Runi yang awalnya malu-malu menjadi tertarik dan mengikuti dengan semangat, begitupun Fatih. Setelahnya bermain-main dengan perosotan bubble dari @toysrentkingdom, seru sekali. Disini Fatih baru bertemu dengan teman sebayanya dan mereka seru sekali bermain kesana kemari sehingga mama hanya mengawasi Runi saja.

 

image

Enter a caption(Asik membuat kipas hias)

 

Perosotan memang tidak ada bosan-bosannya ya. Anak-anak berhenti bermain untuk makan bakso sebagai pengganti makan siang (sudah pasti tidak mau nasi kalau di acara bermain, anak anda juga?hihi). Setelah makan siang tentu bermain dilanjutkan, lempar-lemparan water balloons, menggambar di dinding, bermain perosotan (lagi) hingga lari-larian. Setelahnya menikmati sulap (disini saya tidak ikut karena sedang solat), laporan dari papanya sih anak-anak senang sekali. Foto keluarga juga dan tentu saja bermain air di perosotan (lagi-lagi perosotan) sampai jamnya pulang karena Runi mulai mengantuk.

image

Enter a caption(perosotan fenomenal jadi favorit anak-anak)

Sesampainya di mobil, anak-anak pun tertidur pulas karena kecapekan dan tentu saja Fatih makan lagi karena energinya habis bermain-main.

image

Enter a caption(Grup yang sudah mensupport selama 3 tahun lebih)

Alhamdulillah, saya bahagia, hal yang paling menyenangkan dari suatu kegiatan anak-anak adalah anak-anak menikmati tanpa cranky, makan tepat waktu, dan tentu saja setelahnya tertidur pulas πŸ˜‚πŸ˜‚ Mungkin ini adalah salah satu kemajuan dari trik yang saya berlakukan ke anak-anak.