Kisah si Cilik (1)

Fatih: Ma, menyusui mudah atau sulit?

Saya: Ada susahnya ada gampangnya sih, bang. (sembari lalu)

Fatih:…..

keesokan harinya

Fatih: Ma, menyusui mudah atau sulit?

Saya: (kayaknya ada yang ga puas nih) Susah-susah gampang,bang.

Fatih: Kok mama mau nyusui abang?

Saya: ya iyalah, abang kan anak mama

Fatih:…..

sore harinya

Fatih: Ma, menyusui mudah atau sulit?

Saya: (oke,udah 3 kali,beneran ini jawabnya, tapi bingung)….

Fatih: Ma, menyusui mudah ya?

Saya: ada sebagian orang yang menyusuinya mudah, bang, ada sebagian orang yang perlu perjuangan untuk menyusui.

Fatih: Kalau mama?

Saya: Ada sulitnya juga sih bang

Fatih: Kok mama mau padahal kan sulit?

Saya: Iya,bang, kan mama sayang abang. Sama kayak mama lainnya, pasti mau ngasih yang terbaik buat anaknya walaupun sulit

Fatih:(terdiam lama) Abang sayang mama (peluk)

Saya: Mama juga sayang abang (peluk) *speechless*

Lama-lama saya mikir juga pertanyaan ini. Pertama, menyesal ga memberikan jawaban yang langsung memuaskan anak ketika ditanya pertama kali. Kedua, sebenarnya dia mikir apa sih sampe kepikiran banget gitu, ini pertanyaan sebenarnya diulang sampai 5 kali loh. Ada 2 momen saya menjawab jawaban yang sama dan dia ga puas makanya ditanyakan lagi. Kalau jawaban panjang-panjang ya dia keburu main. Semoga di pertanyaan selanjutnya mama bisa menjawab dengan lebih baik ya bang :-*

Berlomba-lomba untuk apa?

Saya mungkin termasuk ibu-ibu yang suka dengan media sosial dan ikut grup parenting sana-sini, berbagi informasi, mencari tau info parenting atau berharap mendapatkan teman senasib dengan mahmud (mamah muda) lainnya terkait persoalan anak dan keluarga. Namun sayangnya masih ada sebagian (jika tidak bisa dibilang banyak) yang menyebabkan atmosfer di grup atau media sosial menjadi agak negatif bahkan melukai perasaan orang lain sehingga orang tersebut tidak nyaman berada dalam atmosfer tersebut dan memilih untuk mencari suasana lain, left group misalnya.

Saya melihat topik mengenai menyusui dan tidak menyusui (saya tidak akan bilang versus karena rasanya ini bukan hal pro dan kontra), ibu bekerja dan ibu tidak bekerja, mpasi rumahan dan mpasi pabrikan, homeschooling, sekolah formal, dan sekolah alam, pendidikan ala indonesia dan pendidikan ala luar negeri (Finlandia, Jepang, China, Prancis, dll sebut saja yang menjadi trend topic sekarang) serta LDR dengan suami dan tinggal satu atap, menjadi isu-isu hangat yang dibicarakan hampir di sebagian besar grup ibu-ibu dan kadang jadi terbawa perasaan 😄

Namun tak lepas pula dari isu tersebut adalah sebagian orang yang merasa benar lalu merasa berhak menghakimi ibu dan keluarga lainnya. Padahal kalau diperhatikan, fase-fase yang dibicarakan belum lagi terlewat. Apakah boleh kita menyombongkan kita begini atau begitu? Keberhasilan apa yang hendak kita buktikan ke orang-orang? Lantas saya menyadari ada yang salah dengan cara kita beropini. Kita lupa (reminder buat saya juga), setiap orang memiliki pilihan masing-masing. Kita sama-sama manusia dewasa dan kita memiliki hak untuk memilih, sama halnya dengan memilih suami, memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal dan sebagainya. Tentu saja lingkungan saya berbeda dengan anda, sifat saya berbeda, tantangan berumahtangga, dan semua situasi kondisi setiap orang berbeda. Tujuan utama kita hanya satu, bisa melewati halangan dan rintangan, memiliki keluarga yang harmonis, anak-anak dibesarkan dengan baik. Bukankah lebih enak dan nyaman rasanya bahwa setiap keputusan dikembalikan lagi ke masing-masing individu tanpa harus nyinyir berpendapat? Atau mungkin kita sebagai ibu harus belajar lagi tentang tenggang rasa dan empati yang kelak akan kita gaungkan di telinga anak-anak kita. Yuk, saling menggenggam, menyemangati, semoga apapun yang menjadi tantangan kita bisa kita hadapi dengan saling support satu sama lain.

 

 

Tips Toilet Training

Saya memiliki dua pengalaman toilet training dengan dua anak, beda karakter, beda sifat yang nantinya akan berbeda dalam pendekatan untuk toilet training. Berdasarkan pengalaman saya itu, saya coba berbagi dengan kalian para pembaca ya 🙂

Tips Pertama, kenali volume urin anak, apakah anak kita termasuk yang heavy pee (urinnya banyak) atau light pee (urinnya sedikit). Di pengalaman saya, anak dengan volume urin lebih banyak akan memiliki waktu lebih lama dibandingkan yang sedikit. Ini akan mempengaruhi jam tatur ke kamar mandi, pengaturan minum susu, dan jam tidurnya. Akan saya ceritakan belakangan ya.

Tips kedua, sediakan celana dalam yang banyak, minimal 1 lusin. Saya pernah menggunakan clodi tetapi anak-anak saya memiliki kulit yang sensitif jadi mudah merah jadi langsung saya skip. Saya pernah juga menggunakan training pants tetapi ternyata lapisan training pants hanya tipis di bagian alas saja jadi untuk anak yang urinnya banyak sama saja bocor juga selain itu celana dalam jauh lebih murah dari training pants ya, lumayan hemat jadinya. Untuk anak yang urinnya sedikit, training pants biasanya hanya basah dan lembab ketika anak berkemih sehingga kita sebagai orang tua tidak sadar, bisa terjadi ISK (Infeksi Saluran Kemih) juga.

Tipe ketiga, sediakan waktu yang banyak di rumah. Untuk ibu bekerja, pilih waktu TT ketika mengambil cuti,minimal seminggu. Selama waktu TT saya juga tidak bepergian kemanapun. Hal ini akan mempermudah prosesnya, sebagai ibu kita tidak dikejar-kejar waktu dan anak diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk mahir berkemih 🙂 saya percaya kemampuan berkemih merupakan salah satu skill untuk manajemen diri.

Untuk informasi, anak pertama saya waktu TT efektif selama 1 bulan, 1 minggu full ditatur setiap jam, ketika sudah terbiasa saya tingkatkan per 2 jam pada minggu kedua. Ternyata di minggu berikutnya anak saya tidak bisa per 3 jam, maka waktu berkemihnya adalah tiap 2 jam. Saya dan papanya mengusahakan dia terbiasa ditatur setiap 2 jam bahkan ketika tidur malam. Anak pertama saya terbiasa tiap 2 jam di minggu keempat. Setelahnya ketika kami bepergian,setiap 2 jam saya akan mengingatkannya untuk berkemih. Repot tapi seru.

Beda halnya dengan anak kedua saya, waktu efektif TTnya hanya 1 minggu. Banyak hal yang memudahkan kami sebagai orang tua, diantaranya kami menemukan anak kami tidak berkemih di malam hari yang ditandai dengan popoknya kering sepanjang malam. Saya perhatikan selama seminggu berturut-turut anak kedua saya tidak minum susu pada malam hari (tidur sepanjang malam) dan tidak terbangun untuk berkemih. Saya mengambil cuti atau menentukan libur panjang (tanggal merah berderet dengan sabtu-minggu) untuk memulai TT. Awalnya saya menetapkan tiap 2 jam ternyata anak ini bisa sadar lebih cepat ketika ingin berkemih. Prosesnya jauh lebih lancar dan hanya 3 hari sampai dia benar-benar mahir menentukan waktu ke kamar mandi.

Tips keempat, lepaskan pospak sama sekali! Hal ini juga yang menyebabkan waktu TT si adik lebih cepat daripada abang. Abang masih dipakaikan pospak di malam hari jadi inkonsistensi saya itu menyebabkan tubuhnya lebih lama beradaptasi untuk berkemih dengan sadar. Selain itu ketika benar-benar tidak pospak, kejadian mengompol akan lebih sedikit. Surprisingly, adik malah tidak mengompol.

Tips kelima, libatkan pasangan dan orang-orang di rumah. Pekerjaan ibu di rumah tentunya sangat banyak sedangkan seperti saya sebutkan di atas, anak diberikan waktu seluas-luasnya untuk menentukan kapan dia siap atau tidak. Alhamdulillah suami dan mbak asisten di rumah memiliki kesepakatan yang sama sehingga proses TT menjadi lebih cepat. tips kelima ini sangat penting apalagi ketika si ibu bekerja ya seperti saya.

Tips keenam, selalu berikan apresiasi kepada anak jika dia bisa berkemih tepat waktu. Biasanya saya berikan tepuk tangan, kadang jingkrak (iya ini lebay) atau tos sepanjang masa TT. Anak menjadi semangat dan merasa dia berhasil melakukan suatu hal yang penting.

Ada tips juga nih mama papa untuk kesiapan BAB di kamar mandi

Tips pertama, sediakan potty trainer yang lucu dan menarik. Hal ini untuk mengenalkan ke anak bahwa bentuk yang seperti itu adalah untuk BAB. Ketika anak belum mau BAB dengan lepas pospak, ajak anak untuk BAB di potty trainer. Ada sebagian anak yang tidak suka dengan potty trainer dan lebih suka BAB di WC jongkok kayak anak pertama saya. PRnya adalah kita harus memegangi badan anak yang tidak ringan ya,hehehehe. Untuk anak batita tentu lebar WC jongkok melebihi kemampuan kakinya, disitulah kita membantu.

Tips kedua, berikan semangat ketika anak akan BAB. Awalnya saya rasa “ah ini berlebihan” ketika melihat suami saya melakukan itu. Sama seperti supporter bola,disemangatin bahkan kita juga bersuara “ngeden” ketika anak sedang berproses. Konyol memang tapi ini sukses kami terapkan di kedua anak kami. Proses TT untuk BAB jauh lebih cepat dibandingkan BAK 😀 Mungkin mama papa juga bisa mencobanya. Jangan gengsi tapi ya 😄

Tips ketiga, pegang tangan anak selama proses BAB. Dengan memegang tangannya, ketakutan, jijik dengan kotorannya, gelisah,dan sebagainya bisa mengalirkan ketenangan ke anak kita. PR banget sih ya tapi ngaruh banget banget buat anak-anak saya. Selain itu dia jadi tau mama papanya selalu support dia dalam kondisi apapun. Seperti yang saya tulis sebelumnya, saya percaya fase TT ini akan berpengaruh ke psikologis ke depannya.

Tips keempat sama seperti tips sebelumnya, berikan apresiasi jika anak berhasil BAB di kamar mandi atau melakukan sesuai instruksi kita. Akan ada saatnya anak sudah mulai terbiasa, apresiasi ini bisa kita hilangkan.

Tips kelima, slowdown aja dan banyak bersabar. Setiap proses tidak memakan waktu yang singkat, perlu kebesaran hati dan kesabaran bahwa ini semua bisa terlewati. Semangat ya para mama dan papa, semoga fase toilet training anak-anak bisa terlewati dengan baik

Salam sayang,

Mama 2 bocah cilik

Happy 8th Years my Blog

Hari ini wordpress memberi tahu saya bahwa saya sudah menulis menggunakan blog ini selama 8 tahun! Wow angka yang luar biasa. Semoga saya bisa aktif menulis lagi (dengan 26 draft yang belum tersentuh 😆) di samping menulis artikel ilmiah dan bermain bersama anak-anak.

Dalam 8 tahun itu tentu 5 tahun terakhir angka kejadian menulis saya menurun karena kesibukan menjadi mama muda dengan dua anak balita. Semoga di postingan berikut-berikutnya saya bisa bercerita tentang apa yang saya alami dan rasakan di perjalanan menjadi ibu ya. Terima kasih sudah membaca 😘

SBH Adventure Land Kids Outbond (Review)

Kemarin, di Bintaro Exchange Mall sedang ada SBH Adventure Land. Saat itu masih jam 3 sore, siang harinya terik luar biasa, pas agak mendung Fatih sudah mengajak untuk ikut flying fox. Ragam kegiatan di Adventure Land ada anak buaya yang ternyata tidak gigit kalau dilihatin 😆 tapi kalau didekatkan tangan kita iya mulutnya akan mangap. Anak-anak tidak ada yang berani pegang (termasuk mamanya 😝). Ada sesi memanah ( Rp 80.000), ada sesi aktivitas + outbond (Rp 50.000) dan ada sesi outbond saja (Rp 30.000). Sesi outbond dan sesi aktivitas hanya dilakukan 1x saja jadi hitungan per satu kali main bukan 1 jam (ini mah maunya saya). Sesi aktivitas yang dilakukan yaitu membuat gerabah.

Anak-anak saya tanyakan, hanya Fatih yang berminat karena ingin merasakan flying fox lagi. Pada saat pertama kali mencoba flying fox, saat itu Fatih berumur 4 tahun dan masih di TK A, tempat meluncur juga tinggi sama seperti flying fox dewasa, karena disemangatin sama cheerleadernya (baca: mama) anaknya akhirnya mau, sayangnya cuma sekali coba. Saat itu Fatih ketakutan dengan lintasan jala karena tinggi sekali. Nah yang ini di BXC, lintasannya rendah dan cocok untuk seusia Fatih (5,5 tahun) PLUS ada tali pengaman dimana-mana, secara keamanan oke banget. Untuk pemula saya bangga dengan kemajuan Fatih karena semua kegiatan outbond selesai dilakukan, ya sebentar sih tapi kalau bagi anak yang takut dengan ketinggian dan biasanya gak mau, dia mau aja saya sudah senang. Untuk anak SD udah terlalu pendek kayaknya ya lintasannya (FYI tinggi Fatih 110an cm). Untuk flying foxnya juga agak pendek, hanya 2 meter tapi worth itlah dengan harganya. Mamanya seneng karena anak bujangnya bisa melawan ketakutannya dan artinya bisa diajakin kayak gini lagi lain kali hihihi.

Trus Runi ngapain dong? Runi maunya nyemangatin abangnya aja, kali ini bagian cheerleader diambil olehnya 😛

20170123_081346

Menggunakan alat keamanan sama om-om yang ramah dan baik hati 😀

20170123_073401

Jangan Takut Berkeringat 😀

20170123_074504

Memanjat Tebing-Melewati Jala-Menyebrangi Jembatan Bambu-Flying Fox