Posted in Belum terkategori

PEMILU HEXAGON CITY

Tahap selanjutnya untuk membangun kota adalah pemilihan walikota! Kandidat yang mencalonkan diri terdiri dari 6 orang dan salah satunya berasal dari regionalku. Di sisi lain, cohousing leaderku terpilih menjadi cluster leader dan sedang mencarikan penggantinya. Awalnya aku pikir untuk apa menambah kegiatan baru lagi di tengah kesibukanku yang super padat ini. Ya, di bulan Oktober ini komponen RCIP yang kupimpin akan mengadakan acara besar sebagai penutup karya kami. Namun demikian, aku tergerak ketika salah satu kandidat yang berasal dari regional Tangerang Selatan mengatakan bahwa kelas bunda produktif adalah playground atau “taman bermain” dan ia ingin bermain dengan sungguh-sungguh. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan ajakan dan bergabung bersamanya untuk menjadi tim sukses. Rasanya ini adalah kali pertama bagiku menjadi tim sukses hahaha, pengalaman baru lagi.

Tak disangka hanya selang beberapa jam cohousing leaderku memberikan pesan pribadi yang intinya mengajakku untuk menjadi cohousing leader. Perasaan bimbang menghantuiku dalam beberapa menit, jawaban menolak sudah kupersiapkan. Terngiang-ngiang tulisan salah satu calon kandidat “pertanyaannya bukan kenapa aku lagi yang harus maju namun mengapa tidak kulakukan?“. Akhirnya dengan mantap hati aku bergabung menjadi cohousing leader. Dan disinilah aku mulai memainkan peranku dan bermain dengan sungguh-sungguh. Satu persatu tabir dan pertanyaan dalam benakku mulai tersingkap. Oiya, dalam kelas bunda produktif aku tergabung ke dalam empat grup whatsapp yaitu grup cohousing, grup cluster, grup tim sukses salah satu kandidat dan grup kelas bunda produktif Tangerang Selatan. Satu hal yang semakin kusadari, semakin kita aktif berperan maka informasi akan semakin dekat dan semakin paham alur permainan di kelas bunda produktif. Bahkan ternyata kami, para cohousing leader satu grup dengan bu Septi, wah cita-cita sekali bisa berdekatan dengan beliau. Alhamdulillah aku merasakan ini ketimbang hanya duduk manis menerima informasi.

Di grup tim sukses kami disebut #temanmainnani dan memberikan upaya terbaik sesuai yang kami bisa. Saya mengambil peran sebagai konseptor dan content writer untuk flyer yang akan kami sebarkan. Beberapa peran lainnya adalah skenario live, tim pantun, tim pembuat stiker, tim pembuat desain flyer dan tentu saja ketua tim sukses. Di grup ini aku merasakan semangat yang menggelora setiap harinya, penuh ide dan antusias untuk mensukseskan sang kandidat, bahkan dengan beberapa teman yang baru saja kukenal saat itu. Petualanganku di playground sungguh mengasyikkan. Namun aku menyadari di grup lainnya cenderung sepi dari informasi dan euforia pemilu hexagon city. Seketika aku merasa bersyukur terlibat dalam peran ini.

Di dalam tim kami sepakat untuk tidak menjelek-jelekkan kandidat walikota lain atau menyindir, lebih mengutamakan kelebihan kandidat yang kami usung dan fokus kepada program-program yang akan diusung. Kalau tidak sekarang, kapan lagi idealisme dalam politik aku tegakkan? Bahkan, aku dan sang kandidat memiliki kehendak hati yang sama yaitu teman-teman kami bebas memilih siapapun, sesuai hati nurani masing-masing. Senyum lebar menghiasi bibirku dalam 3 hari waktu kampanye. Bahkan kami membuat yel-yel setelah seharian sibuk mempersiapkan live kampanye sang kandidat. Lelah tak terasa, hanya hati yang puas dan gembira.

Sebagai tim sukses, aku mempelajari beberapa hal dan merasakan sendiri strategi-strategi yang kutonton pada salah satu film Hollywood “Madam Secretary“. Diantaranya adalah pemetaan kekuatan untuk melihat potensi menang/kalah, melihat metode penyampaian masing-masing kandidat walikota, bagaimana fokus ke kelebihan setiap kandidat walikota, dan tentu saja menjadi diri sendiri/orang yang diinginkan pemilih. Namun kandidat yang kuusung tidak berambisi untuk menang namun lebih kepada menawarkan yang terbaik dengan menjadi diri sendiri.

Selain menonton kampanye kandidatku, aku menonton kandidat lain dan aku merasakan banyak benang merah antar kandidat namun prioritas yang diusung berbeda. Hal menarik kupikir, siapapun yang terpilih semuanya akan memberikan yang terbaik untuk hexagon city! 😀 Aku bahagia menjadi warganya. Apapun hasil yang kami peroleh, tidak masalah, yang penting kami berperan dengan sebaik-baiknya 🙂

Beberapa oleh-oleh yang kuterima sebagai tim sukses adalah badge vote, testimoni riil tentang kandidat, dan kehangatan dari persahabatan baru 🙂

Hikmah di balik pergantian asisten rumah tangga

Bagi ibu bekerja seperti saya, Asisten Rumah Tangga (ART) merupakan salah satu support system yang membantu keberlangsungan keseharian di rumah. Bukan hanya membantu beberapa pekerjaan rumah namun juga membersamai si kecil yang berumur satu tahun ketika saya bekerja di ranah publik. Namun ternyata takdir berkata lain, sang ART pulang kampung mendadak karena urusan keluarga yang harus segera diselesaikan. Awalnya, sang ART pamit hanya untuk satu atau dua hari namun berakhir pamit tidak kembali bekerja kembali di rumah saya. Saya dan suami kaget mendengar hal tersebut namun segera merumuskan sistem baru agar keberlangsungan kondisi di rumah tetap berjalan lancar. Apalagi di pekan ini kedua kakak sedang menghadapi Penilaian Tengah Semester (PTS), wah, kekompakan kami sekeluarga semakin diuji.

Hal pertama yang saya lakukan adalah mengkomunikasikan kondisi saat itu ke suami dan berdiskusi panjang mengenai pembagian tugas dan cara mengkomunikasikan kondisi tersebut ke anak-anak kami. Kami bersepakat untuk membagi tugas rumah tangga dan jadwal memegang si bungsu karena ada target pekerjaan yang harus saya selesaikan di rumah. Alhamdulillah satu urusan selesai.

Hal kedua yang saya lakukan adalah berkomunikasi ke abang dan kakak. Saya sampaikan ke keduanya bahwa kondisi saat ini tanpa ART dan saya meminta mereka untuk kembali mandiri. Tentu saja saya juga mengingatkan hal-hal apa saja yang sudah dapat mereka lakukan sendiri. Ada kalanya memiliki ART membuat kemandirian anak-anak menurun sehingga ketika tidak ada ART, mau tidak mau mereka kembali diminta mandiri. Tentu saja saya tambahkan beberapa poin untuk meningkatkan level kemandirian mereka, hehehe.

Hal ketiga tentu saja hal utama yang harus dilakukan yaitu bertanya ke teman-teman dan kelompok komunitas lingkaran terdekat saya mengenai informasi narahubung yang dapat menyediakan asisten rumah tangga. Alhamdulillah saya mendapat tiga narahubung yang terpercaya untuk mendapatkan calon ART. Saya menghubungi narahubung satu persatu dan hanya meneruskan negosiasi pada yang pertama kali merespon untuk memelihara itikad baik kami sekeluarga. Saya percaya niat yang baik harus melalui itikad dan ikhtiar yang baik agar dapat memperoleh hasil yang baik. Saya dan suami berharap memiliki ART yang dapat bekerja jangka panjang, suatu hal yang sulit kami peroleh dalam tujuh tahun terakhir.

Narahubung pertama adalah kawan dekat saya di suatu komunitas dan merekomendasikan ex-ARTnya yang sedang mencari tempat bekerja baru. Saat itu saya dan sang calon ART bernama ABC sudah bersepakat dan merumuskan bagaimana protokol sebelum sampai di rumah. Ya, saya menghendaki sang calon ART melakukan skirining untuk COVID-19 terlebih dahulu agar saya dan suami yakin bahwa kami tetap menjaga kesehatan keluarga kami. Di sisi lain, saya sudah menghubungi narahubung kedua dan ketika ada respon balik ke saya, saya sudah bersepakat dengan mbak ABC sehingga saya sampaikan ke beliau untuk tidak melanjutkan proses. Qadarullah dua hari kemudian mbak ABC membatalkan perjanjian dengan saya dengan alasan sudah berjanji bekerja di satu tempat karena ditawarkan teman lama. Mendengar kabar ini sontak saya kesal dan kecewa namun masih dapat menyelesaikan baik-baik dan merelakan mbak ABC. Namun kejadian ini tidak membuat hati saya gusar dan bergeas kembali ke narahubung kedua dan ketiga. Narahubung ketiga memberi tahu bahwa sulit mencari ART yang ingin bekerja di masa pandemi COVID-19 karena khawatir terkena COVID-19 sedangkan narahubung kedua masih merespon dengan baik sehingga saya melanjutkan proses diskusi dan negosiasi. Alhamdulillah dari narahubung kedua inilah saya mendapatkan ART baru (sebut saja mbak X) dan saya juga dibantu dalam proses skrining COVID-19 mbak X. Alhamdulillah mbak X sudah bekerja satu hari di rumah kami dan mendapatkan respon baik, kami berharap di masa yang akan datang mbak X juga mampu bekerja dengan baik.

Sepertinya berdiskusi tentang ART akan panjang sekali ya, hihihihi. Namun dalam proses yang masya Allah sebentar (menurut saya), banyak sekali hikmah yang saya peroleh, yaitu:

  1. Berkomunikasi efektif kepada keluarga (suami dan anak-anak) sangatlah penting. Melibatkan keluarga dalam proses dan kondisi riil yang dialami kami semua merupakan hal utama untuk memberikan persepsi yang sama untuk menghadapi kenyataan bersama-sama.
  2. Pergantian ART membuat saya bisa bernegosiasi kembali ke anak-anak mengenai kewajiban mereka terhadap diri sendiri dan rumah sebagai anggota keluarga. Saya dapat mengingatkan peran mereka bahwa mereka memiliki peran untuk menjaga keberlangsungan rumah berjalan aman dan minim gejolak.
  3. Saya dapat melihat kemampuan anak-anak secara langsung untuk beradaptasi terhadap kondisi dan kemampuan berempati pada kondisi yang dihadapi. Kedua kemampuan ini memang menjadi perhatian saya dan suami dalam mendidik anak-anak dalam menghadapi dunia luar nantinya.
  4. Tidak ada supermom. Setiap ibu memiliki energi yang terbatas. Apalagi saya sangat mengenal diri saya dengan memiliki anak 1 tahun dan bekerja di ranah publik serta aktif di komunitas, saya tidak bisa menghadapi semua ini sendirian,selain meminta permakluman dari komunitas dan tempat bekerja selama kami sekeluarga berproses, sayapun meningkatkan kapasitas diri dan meminta keluarga melakukan hal yang sama.
  5. Saya dapat mengendalikan emosi saya dan fokus mencari solusi atas permasalahan yang terjadi. Alhamdulillah Allah berkenan memberikan ujian dan pertolongan yang tidak disangka-sangka. Bertemu dengan orang baik, memiliki prasangka yang baik dalam setiap proses, memiliki itikad yang baik, dan bertawakkal kepada Allah untuk hal yang tidak dapat dikendalikan merupakan empat hal yang kembali merasuki sanubari bahwa janji Allah itu nyata.

Masya Allah, hanya dalam waktu kurang dari 48 jam, semua hikmah ini dapat saya rasakan di keluarga kami. Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.

Posted in Uncategorized

Productivity Hexa-House

Pekan ketiga Bunda Produktif begitu menyenangkan, adrenalin saya meningkat karena tantangan kali ini adalah membuat rumah impian di hexagon city! Membangun rumah berdasarkan passion sangatlah membuat hati berdegup dan mata berbinar-binar. Biasanya saya menyerah dengan hal berbau desain namun kali ini jiwa saya menjadi semangat untuk belajar otodidak menggunakan aplikasi di play store 🤩

Perjalanan membuat hexa house ini penuh dengan belanja ide. Mulai dari window shopping ke pinterest, membuat sketsa menggunakan pulpen, dan akhirnya mencorat-coret dengan aplikasi desain. Saya belajar menggunakan 2 aplikasi dalam waktu 12 jam, wow, betapa passion dapat menggerakkan hati untuk mencari ilmu. Taraa, inilah rumah yang saya sebut dengan productivity hexa house 🤩 Productivity hexa house adalah rumah yang setiap sudutnya memiliki arti produktif bagi diri saya, membangun setiap makna produktivitas dalam keseharian saya. Di bawah ini adalah desainnya.

Productivity Hexa House

Di dalam productivity hexa house atau rumah produktivitas, saya mendesain 5 ruangan utama dan 1 ruangan peralihan dari area luar rumah ke dalam rumah. Kelima ruangan tersebut adalah:

Ruang tidur

Ruang tidur merupakan tempat istirahat yang nyaman setelah beraktivitas seharian. Saya mendesain ruang tidur yang luas agar saya bisa melakukan kegiatan yang menenangkan seperti ibadah, yoga dan tidur tentunya. Di ruangan ini, saya mendesain jendela yang besar ke arah timur agar matahari pagi dapat masuk dan menerangi kamar.

Ruang ide

Ruang ide adalah tempat saya melakukan kegiatan sesuai passion saya seperti belanja ide dengan membaca buku, menulis, mencari referensi. Di ruangan ini ada kursi jenis armchair sehingga dapat membaca buku dengan nyaman dan tentu saja beanbag untuk membaca dengan santai.

Ruang kreativitas dan seni

Ruangan ini adalah ruangan untuk menjahit, mendesain pekerjaan yang berhubungan dengan seni. Saya berikan ruangan yang luas agar ide-ide mengalir masuk ke dalam otak dan terdapat board untuk mengetahui project-project yang sedang berjalan.

Dapur

Dapur didesain dengan sangat fungsional, dan di luar jendela terdapat tanaman yang dapat digunakan untuk memasak seperti cabai, daun bawang, daun jeruk, dan sebagainya. Saya meyakini, produktivitas yang baik berasal dari perut yang kenyang 🙂

Ruang tamu

Ruang tamu didesain dengan suasana hangat, yaitu tempat bercengkrama dengan teman-teman untuk berdiskusi project yang akan dilakukan atau tempat bertukar pikiran.

Resensi Film Series It’s Okay to Not be Okay

Film Netflix Original Series ini sangat populer belakangan ini. Serial drama psikologi yang menurut saya sangat sarat maknanya dan relevan dengan tema kesehatan mental yang semakin marak digaungkan belakangan ini. Bahkan beberapa adegan membuat saya bisa menyalurkan emosi dari dalam diri dan terpana bahwa ternyata hal-hal kompleks yang dialami oleh orang yang mengalami gangguan jiwa dapat digambarkan dengan gamblang sehingga penonton dapat memahami mengapa reaksi yang diberikan oleh orang-orang tersebut dan muncul rasa belas kasih berikutnya. Terima kasih Gang Tae 🙂

Foto “Keluarga” Bertiga dari 3 Tokoh Utama Gang Tae-Moon Young-Sang Tae (diambil dari sini)

Berikut resensi resmi yang didapatkan dari asianwiki:

Film ini merupakan kisah seorang lelaki yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa (RSJ) bernama Moon Gang-Tae dengan kakaknya Sang-Tae yang memiliki autisme yang bertemu dengan wanita penulis buku anak terkenal bernama Ko Moon Young namun memiliki kepribadian gangguan antisosial. Tugas Gang-Tae selama ini adalah sebagai perawat yang menulis kondisi pasien dan mengurus situasi yang tidak terduga dan hanya mendapat gaji sebesar 1.600 USD per bulan. Sang penulis wanita seorang yang populer di kalangan anak-anak dan keluarganya namun sangat egois, arogan dan kasar.

Izinkan saya bercerita kisah lengkapnya versi saya yang dapat saya tangkap dari film tersebut (maaf ini spoiler sedikit, jika tak berkenan, bisa skip tulisan italic di bawah dan lanjut ke bagian bawah artikel):

Alkisah ada 2 orang bersaudara bernama Gang Tae dan Sang Tae. Keduanya selalu memiliki situasi sulit yang diakibatkan oleh trauma Sang Tae terhadap “kupu-kupu” sehingga histeris dan dianggap “mengacaukan” kondisi . Berulang kali Sang Tae berpindah sekolah dan Gang Tae berpindah RSJ untuk bekerja karena hal ini. Di sebuah RS di Seoul, Gang Tae bertemu tak terduga dengan Moon Young yang sedang mengisahkan buku anak-anak terbarunya kepada anak-anak di RSJ tersebut. Inilah “luka” pertama yang diperoleh Gang Tae dari Moon Young. Setelah pertemuan ini, karena dianggap tidak dapat menangani pasien maka Gang Tae dipecat setelah ke sekian kalinya dan mereka harus berpindah lagi. Namun, kisah ini menjadi lebih kompleks karena Sang Tae fans berat buku-buku Moon Young dan Moon Young terobsesi “memiliki” Gang Tae. Jadi perpindahan Gang Tae berikutnya ke RSJ terakhir adalah menghadapi trauma “kupu-kupu” dan masa lalu Moon Young. Pada adegan ini, kita akan melihat bahwa obsesi memiliki membuat Moon Young kembali ke masa lalu yang selalu menjadi mimpi buruk tidur malamnya. Saya katakan obsesi karena ada “keharusan untuk mendapatkan dengan cara apapun, hingga tunduk, hingga dikuasai”. Apakah mudah? Tidak sama sekali. Justru kembali menemui kupu-kupu membuka takdir baru bagi ketiga pemeran utama menemukan dirinya kembali, menyembuhkan luka masa lalu, dan menata masa depan.

Perjalanan mereka digambarkan detil dengan aksi-reaksi perilaku di awal film hingga aksi-reaksi yang berubah di akhir film. Beberapa plot kisah cinta Gang Tae-Moon Young maupun direktur penerbit buku-buku Moon Young dengan sahabat kecil Gang Tae, asisten penerbit dengan sahabat lama Gang Tae mewarnai film ini dengan reaksi “normal” sehingga tarik ulur emosi akibat inner child masing-masing pemeran dapat terasa ke penonton. Di film ini terlihat kecendrungan psikologis masing-masing tokoh utama karena digambarkan detil lewat kisah-kisah orang-orang terdekat mereka (namun mereka tidak merasa se”dekat” itu secara emosi) bahwa Gang Tae cenderung menahan seluruh emosi sehingga menjadi pribadi yang “palsu”, dapat tertawa walau menangis dalam hati; Sang Tae yang autisme menginginkan semua “milik”nya tidak boleh disentuh orang lain terutama adiknya Gang Tae; dan Moon Young yang sangat obsesi terhadap suatu yang dianggapnya “cantik” dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia mau. Di akhir kisah ketiganya dapat “sembuh” dari ketakutan-ketakutannya sendiri dengan Gang Tae yang sudah memiliki kemauan dan emosi, Sang Tae yang sudah merelakan Gang Tae menjadi milik dirinya sendiri, dan Moon Young yang bisa berempati dengan orang lain.

Banyak hal yang dapat kupetik dari kisah yang lumayan dark namun berbalut asmara ini, diantaranya yang menurut saya sangat humanis adalah:

  1. Setiap diri kita adalah “milik” kita sendiri, bukan milik orang lain walaupun itu saudara, anak, orang tua, dan pasangan. Kita berhak menjadi diri kita dan berhak untuk memiliki kemauan, menolak keinginan yang lain atau bermimpi.
  2. Setiap orang memiliki traumanya sendiri dan menghadapi trauma itu tidak bisa sendiri, memerlukan partner yang tepat dan berkonsultasi dengan yang ahlinya. Di Film Gang Tae dan Gang Tae berkonsultasi ke direktur RSJ yang merupakan psikiater, Moon Young ditangani oleh Gang Tae (partner) karena ketidakpercayaannya kepada orang lain. Namun demikian, mereka “mendengar” dari kisah-kisah yang diceritakan para pasien ataupun celotehan Sang Tae yang cenderung tepat sasaran. Hal ini menjadi kekuatan psikologis masing-masing untuk menghadapi “kupu-kupu” yang menjadi sosok traumatis bersama dengan sisi psikologis yang berbeda. Partner inilah yang membantu menghadapi trauma jika ternyata tidak bisa dihadapi secara normal (ketakutan luar biasa) –> aku melihat ini di adegan sosok psikopat sang Ibu ketika semuanya bertemu dan Sang Tae yang menyelamatkan karena tidak tahu tentang kupu-kupu namun tahu adik-adiknya terancam. Ketiganya menjadi saling menguatkan.
  3. Terapi penyembuhan bisa dengan berbagai cara namun satu hal yang pasti, dihadapi bukan lari. Tidak harus menjadi seperti semula namun menjadi diri kita yang terbaik dan menjalaninya adalah sikap yang berani.
  4. Menjadi abai bisa lebih buruk dibandingkan melakukan kesalahan. Hal ini terlihat dari Moon Young yang lebih membenci ayahnya dibanding ibunya yang melakukan kesalahan keji dan seorang psikopat. Sang ayah “hanya” diam, abai dan membiarkan Moon Young kecil ketakutan dalam cengkraman psikologis sang ibu walaupun sebenarnya sangat mencintai sang anak. Namun cinta itu tidak terasa karena tanpa aksi yang terlihat anak.
  5. Mencintai dapat mengubah. Moon Young yang memiliki “bakat” psikopat dapat berubah demi Gang Tae yang dicintai. Gang Tae dapat menghadapi trauma masa kecilnya karena mencintai Moon Young dan bertahan untuk Sang Tae. Sang Tae dapat “mengalahkan” kupu-kupu dalam ingatannya karena mencintai “adik-adik”nya. Mereka ingin menjadi sosok yang diandalkan. Sebetulnya cinta itu berpusat ke Gang Tae namun karena Gang Tae mencintai dua sosok lainnya maka Sang Tae dan Moon Young menyesuaikan (Sang Tae merelakan yang dianggapnya miliknya, Moon Young menjadi lebih peduli Sang Tae).
  6. Salah satu self therapy yang sangat mengena adalah kenangan tidak bisa dihapus namun dapat digantikan/ditimpa dengan kenangan yang lebih indah. Makna kupu-kupu yang awalnya diartikan psyche = psikopat menjadi psyche = menyembuhkan. Hal yang sama dengan makna yang lebih indah.

Saya sungguh terkesan dengan filmnya, baik dari adu akting para tokoh-tokoh di dalamnya, pesan yang disampaikan, alur cerita dan tentu saja desain baju sang tokoh wanita yang sangat ciamik serta transformasi buku cerita bergambar yang dibuat oleh Moon Young mampu membuat film ini menjadi sangat direkomendasikan 🙂

Merdeka! Merdeka untuk Siapa?

Pertanyaan ini muncul di benakku karena biasanya ketika memilih makna kemerdekaan aku selalu memikirkan sudut pandang orang lain. Tahun 2020 terasa berbeda, aku ingin memilih merdeka dari memikirkan kehidupan orang lain yang seringkali mempengaruhi keseharianku. Ya, biasanya aku sering tergelitik membandingkan kehidupan orang lain dengan kehidupanku, memandang ke atas untuk hal yang belum aku punya sehingga memantik motivasi internalku atau memandang ke bawah untuk hal yang sudah aku punya dan tidak dimiliki orang lain agar tumbuh rasa syukurku. Namun aku melihat ada ruang untuk selalu menargetkan sesuatu sehingga kadang terasa melelahkan, terasa diburu-buru oleh target yang kutetapkan sendiri. Kali ini, aku memilih untuk menjalankan kehidupan tanpa membandingkan, menikmati setiap proses di hadapanku apa adanya. Hal ini terasa tak mudah bagi tipe perencana sepertiku yang selalu memikirkan langkah-langkah apa yang ingin aku lakukan dan menahan motivasi internalku untuk melahap informasi-informasi baru yang muncul bertubi-tubi di era new normal ini.

Tahun ini aku memutuskan untuk mengurusi channel hidupku sendiri, fokus terhadap apa yang ingin aku capai tanpa mengambil pusing mengapa orang lain melakukan hal yang berbeda dan menikmati hening yang sengaja kuciptakan beberapa kali dalam sepekan agar nikmat Allah terasa semakin dalam. Tahun ini aku juga memutuskan untuk tidak mengambil pusing apa yang dipikirkan orang lain atau menggubris penghakiman sekitarku yang mengambil jalan yang berbeda tanpa perlu dipikirkan mendalam atau menanyakan alasan. Aku hanya perlu memaklumi bahwa latar belakang, ilmu, nilai hidup dan tujuan yang kita pilih berbeda dan tidak mengapa kita memiliki cara yang berbeda dalam menjalani kehidupan. Kita tidak perlu ikut campur untuk merasa paling tahu atau orang lain merasa paling tahu mengenai kehidupan yang masing-masing jalankan karena sejatinya konsekuensi atas segala pilihan akan kita jalani masing-masing bukan?

Oleh karenanya merdekakan pikiran, merdekakan dirimu!

Merdeka untuk Diriku

Posted in bunda cekatan

Tentang Perjalanan Bunda Cekatan

6 bulan sudah saya menjalani kelas bunda cekatan bersama teman-teman di Ibu Profesional. Bingung, meraba-raba awalnya, memilih dan memantapkan hati untuk memilih prioritas yang telah kudalami dalam 6 bulan ini.

Perasaanku mengikuti kelas bunda cekatan ini nano-nano, mulai dari penasaran, kepo dengan ilmu-ilmu yang bertebaran di hutan namun harus menahan diri untuk fokus sampai pada tujuan. Saya bahagia dengan prosesnya dan sistemnya. Sistemnya cocok untuk diterapkan ke anak-anak kelak dalam menentukan apa yang akan mereka tekuni di dunia nyata. Prosesnya tak sebentar namun sungguh bermanfaat karena konsistensi dan komitmen yang terus digaungkan oleh Bu Septi dan mbak Ika Pratidina nyata adanya. Tanpa kedua itu, sungguh tersesat di hutan atau sampai di tujuan tanpa membawa apa-apa juga dapat terjadi. Dan disinilah saya, berbahagia dengan proses dan hasil yang telah kudapatkan. Sungguh berharga ♥️

Saya bertahan bukan untuk lulus. Betul,lulus adalah hal yang berarti tetapi menjadi diri yang lebih baik dan mumpuni adalah fokus utama dalam bersungguh-sungguh menjalani proses. Dan itu tak mudah ternyata 🙂

Saya menjadi lebih bisa mengatur energi tubuh saya plus emosi, apalagi di tengah pandemi yang tak terduga ternyata kini sangat erat dengan keseharian kita. Selain itu, saya mendapat bonus untuk menuliskan kisah itu dalam buku yang sedang dalam proses penulisan serta menyelesaikan 1 buku lainnya bertema sains populer. Masya Allah, dengan 1 niat ternyata dapat bonus berlipat ganda. Maka disini saya belajar bahwa kata-kata bu Septi “bersungguh-sungguh memantaskan diri” karena dengan bersungguh-sungguh maka kesempatan itu datang menghampiri sesuai dengan takdir Allah yang ditetapkan 🙂

Pada saat selebrasi, teman-teman di Tangsel memunculkan berbagai ide yang berintikan pass challenge. Dalam 1 hari kami mendapatkan ide besar dan menunggu arahan dari sang sutradara alias teman kami yang membantu dalam video editor. Waktunya bersamaan dengan saya pindahan rumah, sempat hopeless karena riweuh dengan kondisi rumah plus bayi yang nemplok seharian lalu saya pikir saya coba ajak anak-anak membantu. Mereka semangat sekali ternyata karena kebetulan Abang sedang belajar videografi dan Kakak sedang suka menggambar. Entah kenapa saya santai sekali menceritakan bahwa saya butuh bantuan untuk pengambilan gambar dan menyiapkan kertas untuk ditunjukkan. Kakak sigap membuatkan saya cover buku ala-ala dengan gambar kepompong unyu-unyu sedangkan Abang bersiap menantikan malam untuk memvideokan saya. Tak disangka, prosesnya sangat menyenangkan walau mengambil gambar berulang-ulang hahaha. Mereka tertawa dan bangga menjadi bagian dari perjalanan saya. Dan saya? Tentu bangga karena menampilkan karya mereka bersama teman-teman bunda cekatan lainnya 🙂

Cover Book by Kakak Runi

Video selebrasi kami dapat dilihat di youtube Ibu Profesional Tangerang Selatan atau melihat video di bawah ini 😊

Video Selebrasi BUnda Cekatan Ibu Profesional Tangerang Selatan
Metamorfosisku
Salam Bunda Cekatan 🙂

#aliranrasabuncek1 #selebrasibuncek1