OWA (obat wajib apotek)


Aku sudah PKL selama seminggu di apotek dan ada hal-hal yang aku tidak mengerti >.< salah satunya tentang OWA (Obat Wajib Apotek). Kenapa obat-obat yang gak masuk daftar OWA tetap dapat ditebus yah? kenapa jadi ada ‘kebijakan’ apotek sendiri yang membuat aturan dari pemerintah menjadi dilanggar ya? sebenarnya sih kalo diliat lagi, permenkes atau kepmenkes yang mengatur OWA udah jadul banget, terbaru aja tahun 1993, wow, 17 tahun yang lalu!! kenapa perkembangan obat di apotek gak dibarengi dengan peraturan terbaru ya? jadi menyulitkan praktisi di lapangan kan jadinya. arrrgghh… bingung @.@

nih, ada info-info untuk mengerti apa bedanya narkotika, OWA, obat keras, obat bebas dan obat bebas terbatas buat memudahkan kamu-kamu ngerti kebingunganku :p :

  • Obat Bebas

Obat bebas dapat dijual bebas di warung kelontong, toko obat berizin, supermarket serta apotek. Dalam pemakaiannya, penderita dapat membeli dalam jumlah sangat sedikit saat obat diperlukan, jenis zat aktif pada obat golongan ini relatif aman sehingga pemakainnya tidak memerlukan pengawasan tenaga medis selama diminum sesuai petunjuk yang tertera pada kemasan obat. Oleh karena itu, sebaiknya golongan obat ini tetap dibeli bersama kemasannya.

2

Di Indonesia, obat golongan ini ditandai dengan lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam. Yang termasuk golongan obat ini yaitu obat analgetik/pain killer (parasetamol), vitamin dan mineral. Ada juga obat-obat herbal tidak masuk dalam golongan ini, namun dikelompokkan sendiri dalam obat tradisional (TR).

  • Obat Bebas Terbatas

Obat bebas terbatas adalah obat yang sebenarnya termasuk obat keras tetapi masih dapat dijual atau dibeli bebas tanpa resep dokter, dan disertai dengan tanda peringatan (ada di kotak hitam dengan tulisan putih seperti di bawah). Tanda khusus pada kemasan dan etiket obat bebas terbatas adalah lingkaran biru dengan garis tepi berwarna hitam.

3

Tanda peringatan selalu tercantum pada kemasan obat bebas terbatas, berupa empat persegi panjang berwarna hitam berukuran panjang 5 (lima) sentimeter, lebar 2 (dua) sentimeter dan memuat pemberitahuan berwarna putih sebagai berikut:

33

Seharusnya obat jenis ini hanya dapat dijual bebas di toko obat berizin (dipegang seorang asisten apoteker) serta apotek (yang hanya boleh beroperasi jika ada apoteker, no pharmacist no service), karena diharapkan pasien memperoleh informasi obat yang memadai saat membeli obat bebas terbatas.

Contoh obat golongan ini adalah: pain relief, obat batuk, obat pilek dan krim antiseptik.

  • Obat Keras

Golongan obat yang hanya boleh diberikan atas resep dokter, dokter gigi, dan dokter hewan ditandai dengan tanda lingkaran merah dengan lingkaran luar berwarna hitam dan terdapat huruf K di dalamnya. Yang termasuk golongan ini adalah beberapa obat generik dan Obat Wajib Apotek (OWA). Juga termasuk didalamnya narkotika dan psikotropika tergolong obat keras.

4

Obat psikotropika adalah obat keras baik alamiah maupun sintetis bukan narkotik, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku.

Contoh : Diazepam, Phenobarbital

  • Obat Narkotika

5

Obat narkotika adalah obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan menimbulkan ketergantungan.

Contoh : Morfin, Petidin

Note:

  1. Obat bebas dan obat bebas terbatas, termasuk obat daftar W (Warschuwing) atau OTC (over the counter).
  2. Pada obat bebas terbatas terdapat salah satu tanda peringatan nomor 1- 6 (P nomor 4 sudah tidak dipakai lagi).
  3. Obat keras nama lain yaitu obat daftar G (Gevarlijk), bisa diperoleh hanya dengan resep dokter.
  4. OWA (obat wajib apoteker) yaitu obat keras yang dapat diberikan oleh apoteker pengelola apotek (APA), hanya bisa didapatkan di apotek.
  • Obat Wajib Apotek (OWA)

Selain memproduksi obat generik, untuk memenuhi keterjangkauan pelayanan kesehatan khususnya akses obat pemerintah mengeluarkan kebijakan OWA.

OWA merupakan obat keras yang dapat diberikan oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) kepada pasien. Walaupun APA boleh memberikan obat keras, namun ada persayaratan yang harus dilakukan dalam penyerahan OWA.

  1. Apoteker wajib memenuhi ketentuan jenis dan jumlah yang boleh diberikan kepada pasien. Contohnya hanya jenis oksitetrasiklin salep saja yang termasuk OWA, dan hanya boleh diberikan 1 tube.
  2. Apoteker wajib melakukan pencatatan yang benar mengenai data pasien (nama, alamat, umur) serta penyakit yang diderita.
  3. Apoteker wajib memberikan informasi obat secara benar mencakup: indikasi, kontra-indikasi, cara pemakain, cara penyimpanan dan efek samping obat yang mungkin timbul serta tindakan yang disarankan bila efek tidak dikehendaki tersebut timbul.

Jenis OWA

Tujuan OWA adalah memperluas keterjangkauan obat untuk masyarakat, maka obat-obat yang digolongkan dalam OWA adalah obat yang diperlukan bagi kebanyakan penyakit yang diderita pasien. Antara lain: obat antiinflamasi (asam mefenamat), obat alergi kulit (salep hidrokotison), infeksi kulit dan mata (salep oksitetrasiklin), antialergi sistemik (CTM), obat KB hormonal.

Sesuai permenkes No.919/MENKES/PER/X/1993, kriteria obat yang dapat diserahkan:

  1. Tidak dikontraindikasikan untuk penggunaan pada wanita hamil, anak di bawah usia 2 tahun dan orang tua di atas 65 tahun.
  2. Pengobatan sendiri dengan obat dimaksud tidak memberikan risiko pada kelanjutan penyakit.
  3. Penggunaannya tidak memerlukan cara atau alat khusus yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan.
  4. Penggunaannya diperlukan untuk penyakit yang prevalensinya tinggi di Indonesia.
  5. Obat dimaksud memiliki rasio khasiat keamanan yang dapat dipertanggungjawabkan untuk pengobatan sendiri.

Diantara peraturan mengenai OWA adalah antara lain :
· Permenkes no.919/MENKES/PER/X/1993 tentang criteria OWA
· Kepmenkes no.347/MENKES/SK/VII/1990 tentang OWA no.1
· Permenkes no.924/MENKES/PER/X/1993 tentang OWA no.2
· Permenkes no.925/MENKES/PER/X/1993 tentang perubahan golongan OWA no.1

Nah, dari info di atas, ada kata2 yang aku tebelin kan yah (kecuali untuk keterangan jenis obat yah). Teori yang di atas kertas ini kayaknya di sebagian besar apotek gak melakukan deh. Jarang banget yang minta OWA dimintain dituliskan rekam medisnya. Mmm.. apa aku yang terlalu idealis yah? @.@ terlihat juga kan tahun terakhir penentuan OWA tuh kapan? bagaimana pelayanan farmasi di Indonesia bisa maju yah kalo SOP yang jelas aja gak lengkap. Jadinya praktisi yang satu dengan yang lain memiliki pedoman yang tidak sama dan ada ketimpangan pelayanan. jadinya yang dirugikan tentu saja pasien. Apakah karena memiliki tujuan tentang memperluas keterjangkauan obat lantas obat sekelas antibiotik boleh keluar begitu saja tanpa ada aturan pakai? sediih :'( semoga ke depannya hal ini dapat diperbaiki,aminn

About these ads

40 thoughts on “OWA (obat wajib apotek)

  1. assalmualikum :)
    emmm aku juga pernah mengalami hal yang ini saat 3 bulan yang lalu pada saat magang :)
    tau kan bahwa antibiotik itu g boleh di jual bebas dan harus dengan resep dokter tapi xtanya g, mereka lancar banget di jual bebasnya :( beberapa minggu ini aku telusuri ke apotek lain aku cuma mau liat apakah sama , terus aku xoba beli amoksisilin, dan ciprofloksasin , tapi di jual juga . bahkan aku lihat obat keras pun di jualnya :) aku harap BPOM lebih tegas dalam meninjau apotek2 :)

  2. maaf mbak saya mau tnya ttng obat wajib apotek ..
    saya pernah denger dr orang bhwa obat wajib apotek tidak diberlakukan lg..??

  3. kupikir2, kalo semua apoteker bisa jadi psa di apoteknya sendiri saya rasa lebih afdol. Jumlah lulusan dibatasi, itu institusi2 pendidikan penghasil apoteker diperketat aturannya. Kalo perlu, ada aturan Peninjauan SP dua tahun kemudian. Jika apotekernya belum jadi PSA, SP yg bersangkutan dicabut. Jadi biar ga asal jadi apoteker. Ibarat masuk ke Eropa, kita harus pny uang jaminan di bank, biar ga jadi gelandangan. Apoteker harus punya kemampuan jadi PSA agar tidak jadi “gelandangan”.

    • setau saya sekarang mas, kami ada sertifikat kompetensi dan sertifikat ini diperbarui tiap 5 tahun sekali. ada uji kompetensinya juga. Jadi, temen-temen apoteker yang dibidang pelayanan harus terus mengupgrade kemampuannya :) kalo untuk jadi PSA, saya pikir tergantung modal juga kan mas? itu juga tergantung cashflow tiap-tiap apotek. ada wilayah dimana apotek bisa leluasa berkembang dan ada juga daerah yang perputaran obatnya kecil jadi ya gak bisa dipaksakan apoteker harus menjadi PSA. tapi memang dari organisasi profesi sendiri juga mendorong apoteker menjadi “tuan rumah” di tempat mengabdinya :)

    • obat wajib tuh sudah ditentukan oleh pemerintah apa saja.. bisa dari analgetik misalnya asam mefenamat, antibiotik : amoxicillin..
      kamu kul dimana? emang harus tau, jadi obat wajib apotek (OWA) tu boleh diberikan tanpa resep asalkan ada apoteker dan memberitahukan cara penggunaan, indikasi, dllnya

  4. mba contoh” obat psikotropika & narkotika yang ada di apotek apa saja?
    saya ada tugas dr kampus…., mungkin anda tau banyak…! thnx

  5. oiya, saya sudah mengkonsultasikan ke pihak-pihak terkait yang mengerti masalah ini (tidak hanya IAI) ternyata memang mengenaskan yah.. seperti dugaan anda tepatnya.. miris -.-“

  6. mas/mbak apoteker, maksud saya realistis tu lakukan seideal mungkin dan ubah yang bisa kita ubah. Daya cakupan kita secara individual kan kecil. Kayak anda misalnya, yang bisa bener-bener anda ubah kan tempat anda a.k.a apotek griya farma kan?
    Kalo secara nasional, daya yang dibutuhkan tidak sedikit tapi mencakup kita semua. Saya juga setuju kok kalo sistem di kita belum benar, wong apoteker di Indonesia dengan apoteker di Inggris yang katanya sama-sama pharmaceutical care, realita di lapangan amat jauh berbeda.
    wah,wah, linknya bagus sekali mas/mbak apoteker! :) saya pikir selama ini harga obat di kita mahal karena bahan bakunya. Hmm, bea impor + transportasi sudah masuk lom ya? terus terang saya gak tau banyak tentang ini, saya tanya IAI dulu aja mestinya ya. Mungkin anda juga perlu berkonsultasi dengan IAI di daerah anda :) Menurut anda kenapa bisa mahal? *tanya balik sama yang dah pengalaman*

  7. menurut anda seperti itu? ya mungkin saja tapi kita kan tau kalo misalnya apotek harus ada SP untuk setiap produk obatnya, kira2 mungkin gak? saya sih berpikir lebih realistis aja, jangan pesimis dan antipati, yang bisa kita lakukan, kita lakukan, yang gak bisa, yasudah, bukan menjadi tanggung jawab kita.. kalo di tempat anda seperti apa?

  8. Berdasarkan diskusi dengan salah satu pengurus IAI daerah, beliau meyakinkan saya dan kawan2 kalo PP51 (ayo didonlot,hoho) adalah sebuah peluang nyata bagi apoteker di Indonesia untuk mengeksiskan dirinya dalam arti bisa lebih leluasa dalam berkarya sesuai dengan profesi kita. Menurut saya, bargaining yang kuat akan bisa kita dapatkan jika kita memiliki link yang kuat,terutama dengan para apoteker lainnya, jika sesama kita kuat maka yang kita hadapi tidak melulu permasalahan-permasalahan teknis namun kita bisa mengupgrade diri dan juga pelayanan kefarmasian di apotek kita :)
    Saya tu tipikal orang yang agak keras mungkin ya tapi selama ini hal yang saya lakukan berguna (walaupun saya belum berpengalaman di bidang apotek–>menjadi Aping or APA, masi PKL ^^). Bagi saya, kalo mau dihargai eksistensi diri kita ya berusaha dulu, harus menjadi YANG TERBAIK, tidak dipungkiri, kita harus berusaha lebih keras dari orang lain, mengalami kendala yang lebih banyak dari orang lain tapi ketika orang-orang melihat KINERJA kita dan itu MEMUASKAN mereka karena kita PROFESIONAL, secara perlahan-lahan kita akan eksis dengan sendirinya. Tidak akan mungkin mendapat emas jika kita tidak menggali, tidak akan mungkin dihargai jika kita bukan yang terbaik karena orang hanya melihat hasilnya aja,mas/mbak. Oiya, dan satu lagi, kalo bertemu dengan pihak seperti saya rasa ada 2 hal yang menyebabkannya, mereka tidak tahu/ tidak percaya dengan pelayanan apotek lainnya atau mereka memang tidak mau tahu. Sebaiknya lebih jeli lagi dalam melihat persoalannya karena cara pengatasannya juga berbeda,hoho. Bagaimana di apotek anda? ^^

    Hmm.. mau gak mau itu kan tentang modal ya mas/mbak. Asalkan mereka merekrut apoteker yang berkompeten, saya rasa tidak masalah, malah justru bagus to dibandingkan mereka dispensing? selain itu, lowongan kerja bertambah to? Yang terpenting adalah sikap dari apoteker itu sendiri. Kalo misalnya kita tau kompetensi kita baik dan bisa memberikan pharmaceutical care yang baik , kita harus melihat kontrak kerjanya dulu, jangan sampai kita dirugikan (baik dalam hal gaji dan hak2 karyawan lainnya). Bagi saya, analoginya kayak ada pihak asing bikin perusahaan di Indonesia, kalo kita berkompeten pasti diterima to? tapi kita kan melihat hak2 karyawan seperti apa, budaya organisasi di perusahaan seperti apa. Asalkan semuanya proporsional, menurut saya gak masalah :)
    Nah,justru jadi tantangan buat kita, bikin apotek sendiri atau jadi PSA ^^

  9. betul, terkadang memang teman-teman sejawat kita yang kurang menghargai eksistensi kita, sehingga apoteker tidak memiliki bergaining yang kuat. Idealismenya luntur. Hal ini dimanfaatkan oleh pihak lain untuk melegalkan usahanya
    Kita mesti rubah prilaku itu dari kita agar kita lebih dihargai.
    Namun pengawasan sekarang dirasa mulai meningkat dari pemerintah tetapi sekarang ini mulai banyak dokter yang membuka apotek agar resep gak kemana2, gimana pandangan anda??

  10. iya sih, anda benar.. tapi sudah terlalu lama keadaan ini dibiarkan. kalo saran dari apotek anda seperti apa? mungkin bisa menjadi masukan yang berharga ke depannya bagi profesi kita :)

    ini pertanyaannya diajukan untuk bertanya ke saya atau di tempat PKL saya? kalo di tempat PKL saya jelas gak ada dokter yang dispensing karena penyerahan obat langsung dari apoteknya. kalo secara umum, saya sangat tidak setuju karena ada batas2 wewenang yang dilanggar di sana. keadaan ini akan terus terjadi jika tidak ada tindak yang tegas dari masing2 komunitas dokter ataupun apoteker. di sisi lain, kita harus menyadari bahwa apoteker belum sepenuhnya siap untuk berada di apotek selama apotek buka. saya rasa jika eksistensi kita ada, bargaining kita juga akan naik di mata dokter.

  11. @A.J.I: bukan warung obat mas, tapi apotek. kalo misalnya emang gak boleh, banyak yang butuh (secara pengertian kan OWA diperbolehkan tanpa resep karena banyak yang membutuhkan dan pemerintah menganggap bahwa apoteker dapat memberikan edukasi kepada pasien).
    kalo misalnya boleh, kok gak ada permenkes baru yang menuliskan OWA?
    @mas fajar: makasi dah mampir mas! ^.^ yup, masyarakat jadi bingung. bahkan saya saja jadi bingung :p jadi bias apa yang boleh, apa yang gak boleh. apa yang menjadi kekuatan hukum dalam pengeluaran obat keras T.T
    @apotekgriyafarma: wah,pihak apotek ada di sini,makasi dah ma mampir! ^.^ kalo di apotek anda seperti apa?
    @all: saya sudah bertanya kepada apoteker di tempat PKL saya dan beliau bilang, sebenarnya memang melanggar aturan tetapi ketika apoteker dapat menjamin bahwa obat resep yang keluar tanpa resep adalah tanggung jawabnya (dalam arti tau diminta oleh siapa, berapa jumlahnya dan kenapa) maka hal tersebut fine2 saja. buat saya sepertinya itu dapat mengacaukan rekam medis pasien deh >.<

  12. sebnarnya ISFI sudah lama mengetahui tentang hal ini dan bukan suatu yg wah lagi antibiotik bisa dibeli di warung obat tanpa apoteker, lagi2 karena nominal yg tidak sesuai dngan beban pekerjaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s