Happy birthday,Fatih :*

Gak nyangka aja Fatih udah setaun dan tentu saja Alhamdulillah saya bersyukur bisa melewati setahun pertumbuhannya walaupun tidak di samping Fatih all day & night. Siapa yang nyangka saya yang seorang manusia jam tidur biasanya dari jam 9 malem-5 pagi gak bangun-bangun sekarang bangun tiap 2 jam sekali dan seringkali bangun jam 2/3 pagi trus gak bisa tidur setelahnya tapi tetep buger sampe sore (malem tepar tentunya,hohoho). Siapa yang nyangka juga saya yang gak doyan ngemil dan makan bisa ngasi ASI setaun penuh buat Fatih dan cukuupp! Alhamdulillah, terharu banget :’) Bahkan sampai detik ini masih ada stok ASIP 4 botol dan 1 kantong plastik (@ 50-60 ml).  Siapa yang nyangka saya yang apa-apa gak bisa, gak pernah berani megang bayi sebelumnya, gak bisa bikin ketawa anak kecil (anak kecil gak doyan sama saya) jadi BISA mandiin bayi, ganti popok,ngeboboin, jago nyanyi lagu anak-anak, bikin ketawa Fatih dan jadi pren-an sama anak kecil lainnya. Subhanallah, hebat bener ya kalo jadi Ibu itu, semua yang gak bisa jadi bisa. Kun fayakun deh.. tapi berproses juga sih..

Ternyata jadi Ibu juga khawatiran banget ya *jadi ngerasain kayak Umi deh* tapi tetep saya belajar untuk gak terlalu parno, panikan atau bahkan terlalu santai dalam menghadapi pertumbuhan dan kesehatan Fatih. Menjadi Ibu itu ternyata tidak seperti eksperimen di lab, tidak bisa mengeliminasi variabel-variabel yang tidak diinginkan. Melalui Fatih saya disadarkan kembali bahwa anak itu punya kemauan,keinginan yang pada dasarnya sederhana dan perlu untuk diakomodasi,gak boleh terlalu dikekang jadinya si anak takut menghadapi kenyataan, gak boleh terlalu dibebaskan jadi anak gak tau aturan. Semuanya punya porsi. Pada akhirnya,ketika kita tidak di sisinya selalu, satu-satunya cara bertawakal bahwa Allah selalu menjaga dia, sama seperti ketika Allah menjaga kita saat ini dan sebelumnya. Aduh, jadi mellow deh :p

Pertumbuhan Fatih membuat saya senang dan bersyukur. Sekarang Fatih punya buku kesayangan. Udah gak laku tuh buku yang biasa digigitin dan dipencet bunyi pas jaman dia bayi dulu,haha. Bukunya hard cover (biar gak robek,haha), kertasnya agak tebal tapi bukan karton, yang penting isinya banyak gambar. Sebenarnya itu buat buku anak SD soalnya matematika tapi karena matematika cerita jadi banyak gambar dan perumpamaan. Fatih jadi doyan buku. Sebelum bobo atau kalau di atas kasur pasti nyariin bukunya buat nunjuk sana-nunjuk sini, celoteh-celoteh dan bolak balik bukunya,hehe. Oiya, Fatih juga udah bisa jalan dari 11 bulan 2 minggu tapi belom PeDe buat jalan sendiri, maunya megangin sambil ngajakin kita jalan juga sambil setengah lari (sebenarnya papanya yang sering diajakin,hihi). Selain itu Fatih dah bisa diajakin masuk-masukin balok, bola ke keranjang,dll (kalo dulu kan bisanya ngambil dan lempar, belum bisa meletakkan pelan-pelan). Nafsu makannya bagus. Well, sekarang udah mulai bagus lagi, seminggu dia ngambek gak makan banyak gara-gara kangen mamanya dinas. Alhasil demam karena kurang cairan dan 4 hari libur kemaren lebih doyan mimik dibandingkan makan. Tapi tak apa, sekarang sudah sehat lagi :) Mm.. apalagi ya? Oiya, dia sudah sangat exciting dengan menulis jadi kalo ada kertas dan pulpen, pasti diambil. Tapi sepertinya masih suka sama bunyi kalo diadu bukan karena pengen nulis deh,hahaha.

Bagaimanapun prosesnya, Happy Birthday, Fatih sayang.. Makasih udah hadir di kehidupan mama.. Megang mama dengan tangan mungilmu.. Meluk mama.. It’s so awesome.. Semoga Fatih bisa tumbuh sehat, jadi anak yang cerdas (pintar gak cukup ternyata), berhati baik, dekat dengan agama, sayang sesama, dan cinta keluarga,amiin..

Papa dan Fatih (13 Mei 2012)

PIB: Jamkesmas menuju BPJS

Hari rabu lalu, PIB (Pertemuan Ilmiah Berkala) Rabuan kembali diadakan di kantor saya. Dan ternyata tema ini adalah tema yang saya tunggu-tunggu! Alasannya karena beberapa waktu lalu, salah seorang teman saya bertanya tentang Jamkesmas dan terus terang pengetahuan saya juga sangat minim. Belum lagi ketika beberapa tetangga saya juga menanyakan tentang Jamkesmas.

Pembicara dari PIB kali ini adalah Prof.Wasis dan Pak Donald (Bener gak ya namanya) dari PPJK namun disayangkan Pak Donald tidak dapat hadir karena terjebak macet total di jalan tol karena adanya kecelakaan (Jakarta oh Jakarta). Alkisah PIB kali ini disengajakan untuk mensosialisasikan UU No. 24 tahun 2011 tentang BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) kesehatan. Sebaiknya PNS ataupun tidak, apalagi di bidang kesehatan, selayaknya saya agak melek terhadap urusan ini. Direncanakan tahun 2014, PT.Askes, Jamsostek, Jamkesmas, tidak akan ada lagi karena ketiganya akan berbaur menjadi 1 dan dipegang oleh BPJS. Tujuannya adalah Universal Health Coverage. Syarat BPJS yang masih saya ingat adalah peserta dari ketiga BUMN tidak boleh dirugikan dan peserta tetap mendapatkan pelayanan walaupun ada masa transisi (misal dari Jamkesmas ke BPJS). Teorinya, pemerintah akan mengcover kesehatan seluruh masyarakat,baik yang kaya ataupun yang miskin, yang pengangguran, wiraswasta, pegawai swasta ataupun PNS, sama halnya asuransi kesehatan di negara maju. Berhubung sudah diselenggarakannya e-KTP, maka pelayanan kesehatan dapat dilakukan di mana saja, tidak harus memiliki KTP setempat (hal yang biasanya terjadi). Untuk DPHO juga akan ditentukan baru dan tentu saja mengutamakan obat generik (tidak seperti sekarang, obat branded generic masih dimasukkan ke DPHO). Well, kalau didengarkan, hal-hal yang berbau teoretis ini berhembus bagaikan angin surga.

Menurut opini dan pengalaman saya pribadi, kita perlu ingat:

1. Berdasarkan fakta yang dipaparkan, pendataan pasien Jamkesmas tidak optimal (beberapa jelek). Apalagi pendayagunaan dana Jamkesmas. Apakah benar dana Jamkesmas memang digunakan oleh orang-orang yang berhak? Banyak loh penduduk yang tidak memiliki KTP (misal pemulung) tidak didaftarkan Jamkesmas,karena persayaratan Jamkesmas adalah orang-orang yang memiliki KTP. Berarti kalau gitu Jamkesmas mengcover siapa? Belum ada data akuratnya,sayangnya.

2. Jika sudah mengetahui bahwa persoalan Jamkesmas belum dapat dipecahkan. Bagaimana jika meleburkan organisasi bermasalah dengan 2 organisasi lainnya (yang belum tentu tidak bermasalah)? Kenapa tidak memikirkan menyehatkan dulu organisasinya? 3 BUMN ini adalah BUMN besar dan permasalahan yang dipegang adalah masalah vital yaitu kesehatan. Jangan sampai uang negara yang segitu besarnya terbuang sia-sia. Atau jika pemikiran pada awalnya BPJS adalah organisasi baru dengan manajemen yang baru dan yang diambil dari 3 BUMN sebelumnya hanya datanya saja, mungkin spekulasi saya akan lain.

3. Ada kasus peserta Jamkesmas memiliki sakit Jantung dan dirujuk ke RS X. Pada saat di RS X, pasien ditolak kalau tidak memberikan DP. Secara teori,itu gak mungkin karena pasien Jamkesmas hanya perlu surat rujukan dan kartu Jamkesmas saja. Tapi,kejadian ini benar-benar terjadi dan pasien yang masih berusia anak-anak itu meninggal karena tidak tertolong perawatan medis. Kasus seperti ini tidak akan terjadi kalau data pasien tersebut sudah ada di RS rujukan. Caranya? Banyak!

- Bisa jadi RS/ puskesmas selain merujuk ke RS rujukan, menelpon RS rujukan sehingga pihak RS rujukan tau kalau ada pasien. Selain itu RS rujukan juga dapat menyiapkan peralatan medis yang dibutuhkan.

- Selain menelpon, pihak RS/puskesmas dapat meng-fax atau mengemail ke RS rujukan.

Apapun caranya pasti bisa dilakukan. Meningkatkan pelayanan dan kenyamanan sangat penting! Secara pribadi saja, saya memang memilih RS swasta dibandingkan pemerintah (untuk penyakit tertentu), bukan karena saya sok punya duit buat bayar ini itu. Tapi, untuk tindakan medis yang membutuhkan penanganan cepat, RS pemerintah masih kalah jauh. Bisa dibilang nyawa manusia lebih dihargai di sini.

4. Jika semua melebur menjadi 1 yaitu BPJS, perlu diperhatikan tentang penyelenggara pelayanan kesehatan dasar yaitu dokter keluarga atau puskesmas. Sistem dari asuransi ini kan rujuk-merujuk, sedangkan orang-orang yang masih punya kemampuan ekonomi mungkin malas ke puskesmas (kalau tempatnya gak bersih). Cara yang harus dilakukan adalah mengubah image tersebut. Bisa saja dengan menggalakkan program dokter keluarga atau meningkatkan image bersih dan sehat dari puskesmas itu sendiri. Oiya, saya juga pernah ke puskesmas dan saya lebih dulu stand by di sana dibandingkan tim dokternya. Gak cuma 15 menit tapi 2 jam,hehe. Gimana tuh?

Hehehe, berteori memang mudah. Apalagi orang-orang Indonesia bagus-bagus pemikirannya. Yang diharapkan kemudian adalah orang-orang yang memikirkan BPJS ini pernah mengalami apa yang dialami orang lain sehingga lebih objektif dan lebih manusiawi sehingga sistem BPJS ini dapat berjalan optimal dan tentu saja menuju universal halth coverage. Aamiin :)

Fatih: 11 bulan

Fatih sudah 11 bulan!Gak terasa ya.. Mamanya aja lupa kalau anaknya udah 11 bulan aja -.-”  Untuk perkembangan makannya Fatih gak usah ditanya, hebat bener keinginan makannya. Paling suka sama buah-buahan kayak pepaya, melon, semangka, jambu biji,kayaknya semua buah deh, kecuali sawo yang getahnya bikin tenggorokan gatel (ini juga mamanya yang gak ngebolehin). Buah-buahannya lebih suka dimakan sendiri pake tangan, kayak BLW gitu. Untuk lauk kayaknya gak ada alergi dan apa aja doyan, asalkan enak!hahaha. Telor rebus punya mama aja suka dimintain kuning telornya sama Fatih,hehe. Daann no gulgar gagal diterapkan ke Fatih, gara-garanya dia suka mintain makanan yang orang-orang pada makan. Tapi tetep, asupannya tidak berlebihan :)

Perkembangan motoriknya udah maju pesat. Awalnya berpikir Fatih bakalan bisa jalan di umur 11 bulan ini, ternyata belum. Alasannya karena dia udah keasikan merangkak, hahaha. Kayaknya males capek gitu. Fatih udah bisa naik 3 anak tangga sendiri. Udah lasak banget. Kesana kemari. Yang ngikutin yang capek *hosh hosh. Beruntung BSnya Fatih orangnya baek, ngikutin gerak Fatih. Tapi yang kurus kok mamanya doang ya? Kalo perkembangan motorik halusnya, dia udah bisa tepuk tangan, kiss bye (ini maunya ke mama doang), pencet-pencet remot, mungutin hal-hal kecil di lantai, nyalain lampu dim mobil, bunyiin klakson mobil, naikin jendela mobil,dll.

Kemampuan bicaranya suka malu-malu. Kalo mamanya pergi bisa panggil “ma” tapi kalau ada mamanya cuma bisa merengek dan “aaaa”. Hahaha. Ke papanya juga gitu. Kalo ada kata yang diulang-ulang dia suka ngikutin. Misalnya pas dia iseng numpahin susunya di botol, mama langsung bilang “Jangan Fatih ntar basah. Liat tuh basah kan” Abis itu dia numpahin susunya lagi dan bilang “basah”  ^_^”

Fatih itu tukang maen, maunya maen muluuu,gak bisa diem kecuali pas bobo dan makan.. Bersyukurnya Fatih tumbuh sehat walo sempet sakit sebulan yang lalu. Terus tumbuh jadi anak sehat dan cerdas ya sayang :)

Konsekuensi,dan cara bersikap

Beberapa waktu lalu saya menonton History Channel. Pada saat itu acara yang ditampilkan mengenai profesi pilot. Di amerika serikat, ternyata gaji pilot tidak sebesar yang dibayangkan orang, bahkan lebih rendah dibandingkan manajer menengah.Dengan jam kerja yang tinggi, standar keselamatan juga harus dipenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,ada yang menambah pendapatan dengan cara menjadi pelayan di toko.Bahkan, ada yang harus berhutang untuk keperluan belanja sehari-hari dan makan menggunakan kupon makan gratis!  Ketika ditanya kenapa mereka tetap mengambil profesi sebagai pilot,mereka menjawab “saya mencintai pekerjaan ini”. Sungguh simpel jawabannya. Artinya,apapun konsekuensi pekerjaan mereka, they took that! Dan kalau tidak mau seperti itu ya jangan jadi pilot.

Cerita lainnya, Papa saya adalah seorang dosen. Buat saya beliau dosen yang hebat. Beliau selalu menyiapkan bahan kuliah dengan baik, mengoreksi secara detail skripsi dan tesis yang dibimbingnya baik beliau sebagai pembimbing maupun penguji. Hey, dari kata-kata sampai substansi loh! [sekarang kan kebanyakan dosen baca skripsi kita pada saat ujian skripsi]. Bahkan pernah ketika beliau sedang menengok kakak saya di luar kota selama 2 minggu, ketika pulang ke rumah sudah malam dan besoknya menguji skripsi pagi. Beliau membaca skripsi hingga tuntas beserta hal-hal yang perlu diperbaiki! Wow.. Kalau saya sih sudah tepar di kasur kali ya? :P kalau ditanya berapa gaji dosen ya sama kayak pilot itu. Dulu belum ada sertifikasi dosen jadi papa mencari cara untuk menghidupi dan menyekolahkan kami anak-anaknya, diantaranya dengan membangun kos-kosan dan percetakan. Sudah banyak tawaran untuk papa menjadi dosen agama di luar negeri, belum lagi tawaran untuk menduduki jabatan tertentu. Tapi beliau tolak. Alasannya? Simpel, beliau cinta mengajar. Bahkan saat ini beliau bela-belain pulkam hanya untuk membangun kembali pesantren yang didirikan kakek buyut saya.
Dua kenyataan di atas tidakkah mengetuk kesadaran kita? Cintailah pekerjaan kita atau pilihlah pekerjaan yang kita cintai. Tapiii terima konsekuensinya, entah gaji kecil, tidak bisa bersosialisasi sana-sini, load kerja tinggi, capek,dll. Dengan rasa cinta inilah kita akan senang bekerja dan mensyukuri nikmat yang diberikanNya, sekecil apapun itu. Yang terpenting bukan harta melimpah tapi keberkahan atas setiap langkah dan rezeki yang kita terima,insya Allah rasa cukup itu akan ada di diri kita.

-renungan menuju kantor di jemputan-

Database herbal Indonesia,make it real!

–postingan di blog satu lagi, yuk mampir ;)

Hai.. hai.. hai.. Sepertinya saya sibuk dengan kerjaan utama jadi lama banget menulis sambungan dari postingan sebelumnya :)

Berbicara tentang database.. Kira-kira susah gak sih bikin database itu? Saya jawab, NGGAK asalkan ada kemauan dan kepedulian (belagu amat ya saya :p) Maksudnya setiap ide akan punya tantangannya tersendiri :) Memang untuk memulai itu susaaaahhh banget tapi sesuatu yang baik kan memang perlu pelopor kan? Kalo misalnya kita bisa memulai, kenapa harus menunggu. Kalo misalnya butuh bantuan, kenapa tidak meminta. Kalo misalnya butuh jaringan, mulailah untuk membuat jaringan.

Eh, ngomong-ngomong pernah intip link ini gak? Ternyata pemerintah sudah mulai bergerak kan? Dari bagian akademis dan peneliti sudah diwajibkan pada tahun 2012 untuk mempublikasikan karya-karyanya secara online. Berarti tidak lama lagi, kemudahan akses untuk mencari pengetahuan atau ilmu-ilmu tertentu sama mudahnya seperti kita berselancar di jejaring sosial loh.

Menurut pandangan saya, ada beberapa hal yang harus terintegrasi dari ABG (Academic, Business, and Government ). Berikut ulasan saya:

  1. Pertama, kontribusi dari ketiga faktor ABG sangat penting dalam perannya masing-masing. pemerintah (saya bidik kementerian kesehatan dan kementerian pertanian sebagai core terkait herbal) bekerja sama dengan DIKTI dan pihak universitas (minimal 5 universitas unggulan di Indonesia). Kenapa kementerian kesehatan? Karena kementerian kesehatan adalah kementerian yang fokus di bidang kesehatan terkait efikasi tanaman obat. Kenapa kementerian pertanian? Karena pertanian terkait dengan senyawa aktif, standardisasi tanaman, dan pemetaan tanaman obat lokal. Kenapa DIKTI? Karena DIKTI adalah instansi yang salah satunya berfokus dalam bidang pendanaan penelitian dalam bidang kesehatan, baik sarjana (S1) maupun pascasarjana (S2). Kenapa akademisi? Karena disinilah para pemain penting di bidang penelitian bermain dan perlunya data yang terintegrasi sehingga tumpang tindih penelitian dapat diminimalkan.
  2. Kedua,pembagian tugas antara ketiga instansi ini perlu dilakukan. Pemerintah sebagai pool terakhir untuk menyimpan data dan membuat database. DIKTI menyaring penelitian-penelitian yang melibatkan herbal Indonesia. Pihak akademisi melakukan pengarsipan skripsi-tesis-disertasi dalam bentuk soft file dan tentu saja pengarsipan yang baik. Dan wow, ternyata ide saya serentak juga dengan DIKTI. Bisa dilihat di situ . Contoh pengarsipan dapat dilihat di web kepunyaan UGM
  3. Ketiga, diperlukan suatu sistem yang terintegrasi secara otomatis dimana setiap file dapat diperbarui secara cepat. Dan tentu saja database ini disimpan di dalam data center/ pusat data. Seperti apa sih pusat data? Data center itu anggep aja pool,hmm bahasa gampangnya sih basecamp atau tempat kumpulan data-data yang kita miliki. Tujuannya agar data-data yang kita miliki tersimpan dengan rapi, terpusat, dan tidak tercecer di sana-sini. Selain itu, data ini sudah terkumpul jadi satu dan dapat diakses dimana saja (Well, IT berperan penting di sini).
  4. Keempat, database boleh diakses siapa saja namuun kontributor dibatasi! Bukan berarti hanya segelintir orang yang boleh memberikan kontribusi tetapi menitikberatkan kesahihan data yang terinput dalam sistem. Kita dapat menjaring melalui institusi. Bahkan kalau mau lebih mudah, kita hanya menginput data yang sudah terpublikasi.
  5. Kelima, tentu komitmen yang kuat sangat diperlukan untuk keberlangsungan database ini. Selain komitmen, kerja sama juga sangat diperlukan. Tidak bisa kalo kita berfikir ini adalah kerjaan pemerintah atau kerjaan akademisi saja. Kalo berpikir seperti ini, database tidak akan terbentuk. Memang dana yang diperlukan besar dan butuh waktu yang lama tapi kalo misalnya bisa dikerjakan perlahan-lahan, mengapa harus dipaksakan cepat? Database herbal ini adalah milik bangsa, tidak boleh atas nama personal, yang menjadi kontributor sedapat mungkin perwakilan institusi. Kita tau sendiri dari berita-berita di media, kalau ada ide bagus langsung dijadikan proyek. Tapi heii, proyek itu berlangsung 1 tahun loh, paling lama 5 tahun. Kalo kita jadikan ini proyek seumur hidup, baru boleh ;)

Ada contoh database herbal hasil karya seorang dosen kita, bisa dilihat di sini. Mau kasih masukan? Boleh banget :)